
seseorang yang memiliki hubungan erat dengan cucunya./Freepik/The Yuri Arcurs Collection
JawaPos.com - Hubungan antara kakek-nenek dan cucu sering kali digambarkan sebagai ikatan yang hangat, penuh kasih, dan menenangkan.
Dalam banyak keluarga, kakek-nenek menjadi tempat cucu merasa diterima tanpa syarat—tempat bercerita tanpa takut dihakimi.
Namun, psikologi keluarga menunjukkan bahwa kedekatan ini tidak tercipta secara kebetulan.
Ikatan yang sehat dan bertahan lama justru dibangun di atas kesadaran akan batasan-batasan tertentu.
Kakek-nenek yang berhasil menjaga hubungan erat dengan cucu mereka bukanlah mereka yang “selalu menuruti” atau “terlalu ikut campur,” melainkan mereka yang memahami perannya dengan matang.
Tanpa disadari, mereka memegang prinsip-prinsip psikologis penting yang menjaga cinta tetap hangat tanpa menimbulkan konflik.
Dilansir dari Expert Editor pada Rabu (21/1), terdapat tujuh batasan yang tidak pernah mereka langgar.
1. Tidak Mengambil Alih Peran Orang Tua
Salah satu batasan terpenting dalam psikologi keluarga adalah kejelasan peran. Kakek-nenek yang memiliki hubungan baik dengan cucu memahami bahwa orang tua tetaplah figur utama dalam pengasuhan dan pengambilan keputusan.
Mereka tidak berusaha “menggantikan” ayah atau ibu, apalagi bersaing dalam hal kedekatan emosional.
Sebaliknya, mereka hadir sebagai pendukung—memberi cinta, kebijaksanaan, dan pengalaman hidup, tanpa merusak otoritas orang tua. Sikap ini membuat cucu merasa aman karena struktur keluarga tetap jelas dan stabil.
2. Tidak Menjelekkan Orang Tua di Depan Cucu
Psikologi perkembangan menegaskan bahwa citra orang tua sangat memengaruhi rasa aman emosional anak.
