
Ilustrasi pelajar SMA. (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Theory of Knowledge (TOK) dan Extended Essay (EE) dipercaya menjadi fondasi utama yang mendorong siswa berpikir mandiri, kritis, dan reflektif saat belajar di sekolah. Dua pilar ini bukan sekadar komponen akademik, tetapi wadah pembentukan karakter dan keberanian intelektual yang sangat dibutuhkan di era serba cepat saat ini.
Di tengah perubahan pesat akibat teknologi dan kecerdasan buatan, kebutuhan akan pendidikan yang membentuk pemikir tangguh semakin mendesak. Kemampuan akademik saja tidak lagi cukup; anak-anak perlu memiliki rasa ingin tahu, kecerdasan sosial-emosional, ketangguhan, serta empati untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian. Keyakinan inilah yang dipegang oleh Warren Wessels, Koordinator IB Diploma Programme di North Jakarta Intercultural School (NJIS).
Dengan pengalaman lebih dari enam belas tahun, Warren melihat pendidikan sebagai proses menyeluruh, bukan sekadar pencapaian nilai.
“Pencapaian akademik itu penting, tetapi perkembangan identitas, kepercayaan diri, ketahanan, dan kecerdasan sosial-emosional juga sama pentingnya. Pendidikan adalah perjalanan menjadi pribadi yang utuh,” ujarnya kepada wartawan, Rabu (10/12).
Warren menekankan bahwa anak-anak belajar dari contoh nyata, terutama dari guru. Bila guru ingin murid berani bertanya, maka kelas harus menjadi ruang aman untuk berdiskusi dan berbeda pendapat. Bila guru ingin menumbuhkan empati, maka interaksi penuh penghargaan harus terwujud setiap hari.
Ketika siswa melihat guru mencoba pendekatan baru, menghadapi tantangan, lalu merefleksikan prosesnya, mereka belajar bahwa pertumbuhan adalah perjalanan panjang.
Di NJIS, ia menyebut bahwa kerangka International Baccalaureate Continuum menjadi fondasi yang memperkuat proses tersebut. Dua komponennya yang paling berpengaruh adalah TOK dan Extended Essay.
TOK mendorong siswa mempertanyakan hal-hal yang selama ini dianggap benar, sekaligus memahami bagaimana budaya, bahasa, dan emosi memengaruhi cara mereka melihat dunia.
Sementara Extended Essay menempatkan siswa pada pengalaman layaknya peneliti universitas: menulis esai empat ribu kata dengan topik yang mereka pilih sendiri, merancang pertanyaan penelitian, menilai sumber, membangun argumen, dan merevisi pemikiran secara kritis.
Menurut Warren, proses itu memang menantang, tetapi hasilnya luar biasa.
“Momen paling berkesan adalah saat siswa menyadari bahwa mereka mampu mencapai sesuatu yang sebelumnya terasa mustahil. Dari situ muncul ketangguhan dan kepercayaan diri,” katanya.
Lingkungan belajar yang inklusif dan beragam juga menjadi elemen penting di NJIS. Dengan siswa dari berbagai provinsi, budaya, agama, serta latar belakang neurodiverse dan neurotypical, ruang kelas menjadi tempat belajar perspektif dan toleransi secara nyata.
“Keberagaman tidak hanya diajarkan, tetapi dialami. Siswa tumbuh dengan sudut pandang luas dan empati yang kuat,” tegas Warren.
Ia meyakini bahwa semua proses pembelajaran hanya bisa terjadi bila siswa merasa aman secara emosional. Anak perlu merasa dihargai, bebas bertanya, bebas salah, dan bebas mencoba lagi.
Pada akhirnya, bagi Warren, pendidikan bukan sekadar nilai atau perguruan tinggi bergengsi. Pendidikan adalah proses membentuk manusia yang bijaksana, berempati, dan berani menghadapi dunia.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
