Logo JawaPos
Author avatar - Image
24 Desember 2025, 15.17 WIB

Api Prometheus di Dunia Paradoks: Ketika Pendidikan Kehilangan Fondasi Kemanusiaan

Danau Singkarak di Sumatera Barat dipenuhi kayu gelondongan usai banjir bandang. Seskab Teddy Indra Wijaya mengakui kerusakan lingkungan ikut memperparah bencana di Sumatera. (Instagram @nabilllntn)

JawaPos.com — Ada sebuah pertanyaan mendasar yang, disadari atau tidak, pasti pernah terlintas di benak banyak orang: Apakah pendidikan Indonesia masih membangun manusia, atau sekadar menyiapkan tenaga kerja?

Pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Founder Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Muhammad Nur Rizal dalam forum Ngkaji Pendidikan yang diadakan di Auditorium Universitas Nahdlatul Ulama, Yogyakarta, Sabtu (20/12) belum lama ini. Forum tersebut sendiri mengambil tema Human & Education Reset.

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Rizal menuturkan bahwa tema tersebut diambil karena, dalam pandangannya, pendidikan dinilai terlalu lama terjebak pada perbaikan teknis. Sementara, fondasi kemanusiaannya terabaikan.

“Reset, bukan restart. Reset berarti menata ulang sistem dengan kembali ke mode dasar manusia: cara berpikir, cara merasa, dan cara mengambil keputusan. Krisis hari ini bukan kekurangan teknologi, melainkan krisis nalar dan kebijaksanaan," katanya.

Untuk menjelaskan gagasannya, Rizal mengajak peserta menengok letusan Gunung Tambora tahun 1815. Peristiwa tersebut memicu pendinginan global yang dikenal sebagai The Year Without Summer, menyebabkan gagal panen, krisis pangan, migrasi besar-besaran, hingga instabilitas politik di Eropa dan Amerika Utara.

“Tambora menunjukkan bahwa bencana bukan semata peristiwa alam. Ia menjadi bencana karena bertemu dengan ketidaksiapan manusia,” ungkap Rizal.

Narasi tersebut kemudian ditarik ke bencana ekologis di Sumatera saat ini. Data yang dipaparkan menunjukkan deforestasi masif sejak 1990-an telah mengubah fungsi hutan secara drastis. Saat hutan masih utuh, koefisien run sangat baik, sekitar 90 persen air hujan diserap tanah dan hanya 10 persen mengalir ke sungai.

Setelah alih fungsi besar-besaran, kondisi itu berbalik: hanya sekitar 10 persen air terserap, sementara 90 persen menjadi limpasan permukaan yang memicu banjir bandang dan longsor.

“Ini bukan semata anomali iklim. Ini akibat paradigma pembangunan yang melihat hutan sebagai ruang transaksi investasi, bukan sebagai sistem ekologis, ” lanjutnya.

Ironisnya, kerugian ekonomi akibat bencana jauh lebih besar dibandingkan manfaat ekonomi dari eksploitasi sumber daya alam. Rizal menyoroti data forest rent Indonesia—nilai bersih ekonomi dari eksploitasi hutan—yang turun dari sekitar 0,81 persen PDB menjadi sekitar 0,4 persen, seiring rusaknya hutan dan menurunnya produktivitas jangka panjang.

“Kita merusak hutan, tapi tidak menjadi kaya. Yang kita wariskan justru kerugian ekonomi, sosial, dan ekologis,” tegasnya.

Forum ini juga menyoroti apa yang disebut Rizal sebagai Paradoxical World alias Dunia Paradoks. Di satu sisi, manusia hidup di era kecerdasan buatan dan teknologi paling maju. Tapi di sisi lain, keputusan publik justru semakin sering mengabaikan data, sains, dan etika.

Editor: Banu Adikara
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore