Penumpang saat memasuki Kereta Cepat Whoosh di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Kamis (4/4).
JawaPos.com – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi periode akselerasi properti didukung oleh target pertumbuhan ekonomi yang optimistis di level 6 persen dari pemerintah, serta proyeksi 5 persen berdasarkan proyeksi Bank Indonesia (BI). Landasan fiskal pun semakin kokoh dengan alokasi belanja negara sebesar Rp 3.842 triliun, naik 8,9 persen dibandingkan 2025.
Pemerintah pun berupaya menggerakkan pasar properti tahun ini dengan memperkuat sisi permintaan dan inventori secara bersamaan. Dari sisi permintaan, perpanjangan insentif PPN DPT 100 persen hingga Desember 2027 memberikan kepastian jangka panjang bagi calon pembeli rumah pertama maupun investor.
Dari sisi inventori, kendala modal kerja yang dialami pengembang skala kecil dan menengah pada 2025 mulai diatasi melalui skema Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan. Terlebih, secara historis, tahun kedua masa jabatan kepresidenan di Indonesia seringkali menjadi periode yang lebih stabil, karena proses konsolidasi kekuasaan dan penyusunan kabinet telah selesai.
Pinhome Indonesia Residential Market Report menunjukkan, memasuki tahun 2026, dampak kereca cepah Whoosh telah memasuki fase maturitas, dimana infrastruktur ini tidak lagi dipandang sebagai sentimen spekulatif melainkan faktor fundamental yang menjaga stabilitas permintaan hunian. Pertumbuhan pencarian properti di wilayah timur Bandung saat ini terkonsentrasi di Kecamatan Cileunyi dan Rancaekek, Kabupaten Bandung.
“Berdasarkan data internal kami, sepanjang semester II 2025, Cileunyi mencatatkan pertumbuhan pencarian sebesar 12 persen dibandingkan semester I, dan tumbuh 18 persen dibandingkan semester II 2024,” jelas CEO dan founder Pinhome Dayu Dara Permata, dalam paparan riset beberapa waktu lalu.
Sepanjang 2026, Cileunyi dan Rancaekek diproyeksikan menjadi motor penggerak pasar properti di Bandung Timur. (Pinhome Research)
Lonjakan minat ini didorong secara signifikan oleh kejelasan progres konstruksi Tol Getaci (Gedebage-Tasikmalaya-Ciacap) pada seksi awal. Kehadiran rencana jalan tol tersebut memberikan nilai tambah strategis bagi Cileunyi, yang ini diposisikan sebagai gerbang transportasi yang menghubungkan Bandung dan jalur selatan Jawa sekaligus akses cepat menuju Stasiun Whoosh Tegalluar.
Sementara itu, Rancaekek mencatatkan pertumbuhan pencarian lebih progresif pada semester II 2025 sebesar 11 persen jika dibandingkan semester I, dan 31 persen dibandingkan semester II 2024. Tingginya angka pertumbuhan tahunan di Rancaekek mengonfirmasi adanya fenomena pergeseran permintaan dari kawasan Gedebage.
“Dengan harga properti di titik premium seperti Gedebage (perumahan Summarecon) yang sudah menyentuh titik jenuh bagi segmen menengah, konsumen secara logis melirik Rancaekek sebagai alternatif yang lebih terjangkau,” terang Dara.
Sepanjang 2026, Cileunyi dan Rancaekek diproyeksikan menjadi motor penggerak pasar properti di Bandung Timur. Pertumbuhan tahunan yang mencapai 31 persen di Rancaekek menandakan besarnya potensi kenaikan nilai aset seiring dengan berlanjutnya progres fisik Tol Getaci.
