Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 November 2025, 14.20 WIB

Blunder Gabriel Palmero Kuatkan Dugaan Pemalsuan Dokumen Timnas: Nenek Saya Lahir di Spanyol, Maksud Saya Malaysia

Gabriel Palmero, FAM, Pemain Naturalisasi Malaysia Caption dan credit foto: Gabriel Palmero blunder sebut neneknya dari Spanyol. (Instagram @Malaysia_NT). - Image

Gabriel Palmero, FAM, Pemain Naturalisasi Malaysia Caption dan credit foto: Gabriel Palmero blunder sebut neneknya dari Spanyol. (Instagram @Malaysia_NT).

JawaPos.com - Blunder yang dilakukan oleh salah satu pemain naturalisasi Malaysia dalam wawancara resmi dengan FIFA kembali menguatkan kecurigaan terhadap keaslian dokumen kewarganegaraan para pemain naturalisasi.

Kasus ini mencuat setelah salah satu pemain naturalisasi itu memberikan pernyataan kontradiktif terkait asal-usul keluarganya.

Dilansir dari New Strait Times (18/11), FIFA Appeal Committee (Komite Banding FIFA) mengungkapkan detail mengejutkan mengenai salah satu dari tujuh pemain naturalisasi Malaysia yang sedang diinvestigasi.

Dalam dokumen keputusan sepanjang 63 halaman, FIFA mencatat bahwa pemain yang disebut sebagai ‘Pemain 1’ (Gabriel Felipe Arrocha atau yang lebih dikenal sebagai Gabriel Palmero) memberikan jawaban yang bertentangan ketika dimintai klarifikasi soal asal-usul kakek dan neneknya.

Dalam wawancara, pemain itu pertama kali menyatakan bahwa kakeknya lahir di Venezuela dan neneknya di Spanyol. Namun, hanya beberapa detik kemudian, sang pemain mengoreksi ucapannya dan menyatakan bahwa neneknya ternyata berasal dari Malaysia.

“Kakek saya lahir di Venezuela dan nenek saya di Spanyol… maksud saya Malaysia, maaf,” kata sang pemain dikutip dari FIFA.

Karena adanya ketidaksesuaian dokumen itu, FIFA juga mengarahkan Sekretariat untuk melaporkan temuan kepada otoritas kriminal di Brasil, Argentina, Belanda, Spanyol, dan Malaysia agar penyelidikan pidana dapat segera dilakukan.

Kesalahan ini dianggap sebagai sinyal kuat adanya dugaan pemalsuan dokumen yang digunakan untuk memenuhi syarat kelayakan bermain sebagai pemain keturunan atau naturalisasi.

FIFA menjelaskan bahwa ‘Pemain 1’ gagal menyediakan dokumen asli yang sebelumnya diberikan kepada agennya. Akibatnya, pemeriksaan hanya dapat dilakukan melalui tiga dokumen, yaitu akta kelahiran neneknya yang diajukan FAM, akta yang diperoleh administrasi FIFA, dan akta yang diterbitkan pemerintah Malaysia.

Ketidaksesuaian dalam dokumen-dokumen ini membuat pernyataan sang pemain menjadi faktor kunci yang memperkuat kecurigaan.

FIFA menilai kesaksian sang pemain sangat signifikan karena ‘Pemain 1’ sebagai menjadi pemain terakhir yang diwawancarai, langsung memberikan jawaban yang tidak konsisten mengenai tempat kelahiran neneknya.

Jawaban itu kemudian dicantumkan FIFA dalam paragraf 55 poin pertama dan dirincikan dalam paragraf 145 hingga 147 sebagai bukti.

Editor: Hendra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore