
Pelatih Brighton Fabian Hurzeler. (Instagram.com/brighton)
JawaPos.com - Pelatih Brighton, Fabian Hurzeler menyesali timnya menyia-nyiakan keunggulan dua gol atas Aston Villa yang mereka miliki pada hari Kamis (4/12) dini hari. Keunggulan itu berbalik berujung kekalahan dramatis 3-4.
Hurzeler menyaksikan timnya memulai laga dengan sangat baik di Stadion Amex, berkat gol dari Jan Paul van Hecke dan gol bunuh diri Pau Torres yang membawa Seagulls unggul 2-0 dalam waktu 29 menit. Namun, Aston Villa mampu bangkit dan menyamakan kedudukan menjelang jeda. Ollie Watkins, yang sebelumnya mengalami paceklik gol selama tujuh pertandingan, berhasil mencetak dua gol di akhir babak pertama.
Setelah itu, Amadou Onana dan pemain pengganti Donyell Malen membuat Villa mengambil alih kendali permainan. Meskipun Van Hecke berhasil memperkecil ketertinggalan tujuh menit sebelum pertandingan berakhir, Brighton tidak mampu menyamakan kedudukan di hadapan pendukungnya sendiri.
Ini menjadi momen yang cukup mencolok, karena ini adalah kali pertama Brighton mencetak tiga gol dalam pertandingan liga kandang namun tetap kalah, sejak kekalahan 4-3 dari Rochdale di divisi keempat pada bulan Desember 1999. Hurzeler pun mengekspresikan kekecewaannya atas ketidakmampuan timnya dalam mempertahankan diri dari situasi bola mati, sebuah aspek yang ingin ia perbaiki sebelum menjamu West Ham United akhir pekan ini.
"Ada selisih tipis yang membuat perbedaan. Ini tentang bagaimana Anda bereaksi dan dua bola mati membuat perbedaan. Inilah selisih tipisnya," ungkap Hurzeler kepada Sky Sports.
"Secara keseluruhan, kami melihat tim yang tidak pernah menyerah dan memiliki keyakinan untuk memenangkan pertandingan ini," katanya.
"Kami bertahan dengan cukup baik sepanjang musim ini. Tidak mudah untuk bertahan dari bola mati. Memblokir kiper juga tidak mudah. Kami masih belum punya aturan yang jelas untuk itu."
Menurut Hurzeler, kebobolan gol adalah hal yang tak diinginkan, dan timnya harus bereaksi terhadap kesulitan yang ada dalam permainan, serta berupaya untuk menjadi lebih baik.
"Itu hanya masalah selisih tipis. Mereka mencetak gol di babak kedua setelah dua bola mati, dan itulah perbedaannya. Kami harus bermain lebih baik dan terus berkembang," tegasnya.
Saat kedudukan masih imbang 2-2, Hurzeler memutuskan untuk memasukkan pencetak gol terbanyak Danny Welbeck setelah mengganti Stefanos Tzimas di lini depan. Sebelum pertandingan, hanya Igor Thiago (11) dari Brentford dan Erling Haaland (15) dari Manchester City yang mencetak lebih banyak gol dibandingkan tujuh gol Welbeck. Banyak yang terkejut mengapa pemain berusia 35 tahun itu tidak memimpin lini depan Seagulls.
Namun, Hurzeler menjelaskan bahwa keputusan tersebut didasarkan pada pengaturan menit bermain Welbeck, yang telah menjadi starter dalam tujuh pertandingan terakhir Brighton di Liga Inggris.
"Dia tidak bisa bermain lebih banyak hari ini. Tentu saja, kami ingin mendatangkan seorang striker. Tim ini jauh lebih matang sekarang," tambahnya.
Hurzeler mengakui pentingnya bertahan lebih baik dalam situasi bola mati, tetapi juga menekankan perlunya analisis mendalam terhadap permainan. "Situasinya genting dan Villa menang, kami kalah. Kami harus menerimanya," tutupnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
