Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 Januari 2026, 05.11 WIB

Maroko dan Senegal Menunggu Hukuman Usai Kekacauan Final Piala Afrika 2025

Senegal juara piala Afrika. (ig @footballsoccermeme) - Image

Senegal juara piala Afrika. (ig @footballsoccermeme)

JawaPos.com-Final Piala Afrika 2025 yang seharusnya menjadi panggung perayaan sepak bola justru berubah menjadi malam penuh kekacauan. Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengutuk insiden yang terjadi dalam laga puncak antara Maroko dan Senegal.

Melansir laman Standard.co, Senegal dan tuan rumah Maroko harus bersiap menghadapi kemungkinan hukuman. Pertandingan final piala Afrika yang digelar pada Minggu (18/1) malam itu berlangsung sengit dan tanpa gol hingga menit kedelapan waktu tambahan.

Namun, tensi melonjak tajam ketika tuan rumah Maroko mendapatkan penalti kontroversial, hanya beberapa saat setelah gol Senegal dianulir. Bek Senegal El Hadji Malick Diouf dinilai menarik Brahim Diaz di dalam kotak penalti.

Setelah wasit Jean Jacques Ndala meninjau insiden tersebut melalui VAR di pinggir lapangan, keputusan pun diambil. Penalti untuk Maroko.

Masalahnya, penalti itu tak langsung dieksekusi. Pertandingan terhenti lebih dari 20 menit, sebuah jeda yang luar biasa panjang untuk laga final. 

Di tengah kebingungan dan kemarahan, pelatih Senegal Pape Thiaw mengambil langkah ekstrem dengan memerintahkan timnya meninggalkan lapangan.

Adegan tersebut sontak mengundang kecaman luas. Final Piala Afrika terancam berhenti di tengah jalan.

Di saat situasi nyaris tak terkendali, Sadio Mane tampil sebagai figur penenang. Dia memilih tetap berada di lapangan dan memainkan peran kunci dalam meyakinkan rekan-rekan setim untuk kembali bertanding, demi menyelamatkan jalannya laga dan, seperti yang dia tekankan, citra sepak bola Afrika.

“Bayangkan sejenak masuk ke ruang ganti dan pertandingan sepak bola berhenti di situ. Saya rasa itu akan memberikan citra negatif pada sepak bola kita,” kata Mane kepada wartawan setelah pertandingan. 

“Saya rasa Afrika saat ini tidak pantas menerima itu. Sepak bola Afrika telah berkembang dengan cara yang luar biasa dan buktinya adalah sepak bola Afrika diikuti di seluruh dunia. Jadi, dari sisi saya, saya melakukan apa yang harus saya lakukan," sambung dia.

“Menurutku akan gila jika tidak memainkan pertandingan ini karena, apa, wasit memberikan penalti dan kita tersingkir dari pertandingan? “Saya rasa itu akan menjadi hal terburuk, terutama di sepak bola Afrika. Saya lebih memilih kalah daripada hal seperti ini terjadi pada sepak bola kita,” imbuh dia.

Meski pertandingan akhirnya dilanjutkan, kritik telanjur mengalir deras. Senegal dan khususnya Pape Thiaw, disorot tajam atas keputusan walk out tersebut. 

Kini, sebagai juara AFCON 2025, Senegal justru berada dalam posisi menunggu hasil tinjauan disipliner dari CAF. CAF sendiri bergerak cepat dengan mengeluarkan pernyataan resmi yang bernada tegas.

Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) mengutuk perilaku yang tidak dapat diterima dari beberapa pemain dan ofisial selama final Piala Afrika antara Maroko dan Senegal.

“CAF mengutuk keras segala bentuk perilaku tidak pantas yang terjadi selama pertandingan, terutama yang menargetkan tim wasit atau penyelenggara pertandingan," tulis pernyataan itu.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore