
Pelatih Timnas Indonesia, Patrick Kluivert, mendapatkan pertanyaan terkait skandal naturalisasi Malaysia jelang melawan Arab Saudi. (Dok. Timnas Indonesia)
JawaPos.com-Patrick Kluivert berpeluang mencatat sejarah. Ia bisa menjadi orang Belanda kelima yang membawa tim Asia ke putaran final Piala Dunia FIFA setelah Guus Hiddink, Dick Advocaat, Pim Verbeek, dan Bert van Marwijk. Namun bagi Kluivert, ada misi yang jauh lebih besar: menuntun Indonesia menuju Piala Dunia pertama sejak negeri ini merdeka pada 17 Agustus 1945.
Romantisme dan nasionalisme berpadu di babak keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 ini. Indonesia harus melewati jalan terjal menghadapi dua tim yang sudah punya pengalaman di pentas dunia: Irak dan Arab Saudi.
Irak tampil di Piala Dunia 1986. Saudi bahkan sudah enam kali lolos dari delapan edisi terakhir. Dan mulai Kamis (10/10) dini hari nanti, Jay Idzes dkk akan turun di Jeddah, markas Saudi, sebelum bertemu Irak di laga berikutnya, Senin (14/10).
“Bermain tandang di Timur Tengah tak pernah mudah. Tapi kami datang dengan mental siap tempur,” ujar salah satu pemain bertahan Garuda.
Meski menghadapi lawan berat, performa Indonesia justru menunjukkan grafik yang positif. Secara peningkatan peringkat dan kualitas permainan, pasukan Kluivert kini jadi salah satu yang paling progresif di Asia.
Benar, Irak dua kali mengalahkan Indonesia di babak sebelumnya. Terakhir, Garuda kalah 0-2 di Jakarta pada 6 Juni 2024. Tapi sejak kemenangan itu, performa Irak tak lagi seimpresif dulu. Dalam 11 laga terakhir Kualifikasi Piala Dunia 2026, mereka mencatat 5 kemenangan, 3 seri, dan 3 kekalahan. Indonesia tak jauh tertinggal dengan 4 kemenangan, 3 seri, dan 4 kekalahan.
Statistik itu menunjukkan selisih tipis. Apalagi Indonesia kini masih berperingkat dua tingkat di bawah Irak dan menjadi tim dengan ranking terendah di babak ini.
Di sisi lain, grup Indonesia jauh lebih berat. Garuda harus satu grup dengan dua dari empat tim terbaik Asia: Jepang dan Australia. Masih ditambah Saudi, Bahrain, dan Tiongkok yang berperingkat jauh di atas.
Irak justru sedikit lebih “beruntung”. Dari tujuh besar Asia, mereka hanya bertemu Korea Selatan dan selalu kalah dalam dua pertemuan. Indonesia malah sempat menumbangkan tim selevel Irak, yakni Arab Saudi.
Misi Kluivert pun semakin jelas: bukan sekadar memperpanjang jejak sukses pelatih Belanda di Asia, tapi membawa Garuda menembus batas sejarah. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
