Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 November 2025, 17.54 WIB

Menuju 100 Tahun! Janji Presiden Persebaya Surabaya Azrul Ananda ke Bonek, Raih Gelar Juara Liga Indonesia

Azrul Ananda kini diminta evaluasi Persebaya Surabaya demi harapan juara sebelum 100 tahun. (Dok. Persebaya Surabaya) - Image

Azrul Ananda kini diminta evaluasi Persebaya Surabaya demi harapan juara sebelum 100 tahun. (Dok. Persebaya Surabaya)

JawaPos.com - Menuju usia satu abad, Persebaya Surabaya memegang satu janji besar yang pernah disampaikan Presiden Klub Azrul Ananda kepada Bonek. Ia menegaskan ambisi Green Force meraih gelar juara Liga Indonesia sebelum memasuki umur 100 tahun. 

Janji tersebut muncul pada perayaan ulang tahun ke-94 Persebaya Surabaya pada Juni 2021, masa ketika klub dan sepak bola nasional tersendat pandemi Covid-19. Banyak klub terpaksa menyesuaikan target, termasuk Persebaya Surabaya yang memilih jalur lebih realistis.

Manajemen kala itu menargetkan finis di papan atas Liga 1 Indonesia musim 2021/2022. Persebaya Surabaya tidak memaksakan diri mengejar gelar, tetapi membangun struktur tim untuk masa depan.

Di balik target jangka pendek, Azrul menyiapkan rencana besar yang jauh lebih ambisius. Ia menekankan perlunya Persebaya Surabaya tumbuh sebagai klub modern, profesional, dan mandiri. Salah satu mimpinya adalah membawa Persebaya Surabaya melantai di bursa saham sebelum memasuki usia satu abad.

“Saya ingin klub ini jadi entitas yang mandiri secara finansial dan profesional,” tegas Azrul dalam pernyataannya saat itu.

IPO dianggapnya sebagai pintu menuju stabilitas dan daya saing jangka panjang. Persebaya Surabaya ingin memiliki kapasitas keuangan setara klub besar Asia sehingga mampu berdiri kokoh di era sepak bola modern.

Namun, ambisi terbesarnya tetap gelar juara Liga Indonesia.

“Saya sangat optimistis Persebaya bisa juara sebelum usia 100 tahun,” ujar Azrul sambil menekankan tetap ada faktor X yang sering menentukan dalam perebutan gelar.

Ia menunjuk pengembangan pemain muda sebagai pondasi strategis untuk mewujudkan mimpi tersebut.

Pada musim 2021/2022, mayoritas pemain Persebaya Surabaya masih berada di bawah usia 30 tahun dan dianggap memiliki ruang berkembang besar. Kombinasi pemain lokal agresif dan pemain asing berkualitas menjadi modal menghadapi persaingan jangka panjang. Persebaya Surabaya ingin berproses dengan konsisten, bukan instan.

Namun, memasuki musim 2025/2026, perjalanan itu menghadapi tantangan besar. Performa Persebaya Surabaya masih terseok dan tertahan di papan tengah hingga pekan ke-14 Super League. Green Force menempati posisi kedelapan dengan 17 poin dari 12 pertandingan. Catatan empat kemenangan, lima seri, dan tiga kekalahan menunjukkan inkonsistensi masih membayangi tim.

Produktivitas tim menghasilkan 14 gol dan kebobolan 12 gol yang menggambarkan keseimbangan belum optimal. Efektivitas serangan pun belum maksimal dengan akurasi tembakan 42 persen dari total 112 percobaan. Di sisi penguasaan bola, Persebaya Surabaya mencatat 3.708 umpan dengan akurasi 79 persen sebagai usaha membangun ritme permainan yang terstruktur.

Namun, kualitas umpan terobosan dan umpan kepala belum memberi dampak maksimal pada gol. Pertahanan bekerja keras dengan 248 intersep, 218 sapuan, dan 30 blok tembakan. Meski demikian, hanya dua nirbobol yang berhasil diraih menunjukkan masih ada celah dalam menjaga fokus.

Situasi semakin panas setelah pelatih kepala Eduardo Perez didepak usai hasil 1-1 melawan Arema FC di pekan ke-13. Evaluasi manajemen berujung pada keputusan mengganti komando untuk memperbaiki arah tim.

Kini tim ditangani caretaker Uston Nawawi yang diharapkan memunculkan energi baru. Uston membawa kedekatan emosional dengan klub sekaligus pengalaman internal yang bisa menjadi pemantik semangat pemain. Perubahan ini menjadi titik awal bagi Persebaya Surabaya untuk kembali mengejar stabilitas performa. Skuad membutuhkan figur pelatih yang mampu mengembalikan intensitas, keberanian, dan karakter khas Green Force.

Editor: Hendra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore