
PSIS Semarang menuai kritik suporter usai kalah 0-3 dari Kendal Tornado FC. Lini belakang rapuh dan strategi monoton. (Istimewa)
Jawapos.com - PSIS Semarang harus menelan pil pahit saat menjamu Kendal Tornado FC pada lanjutan pekan ke-18 Pengandaian Championship.
Bermain di Stadion Jatidiri, Kota Semarang, Jumat (30/1/2026), Laskar Mahesa Jenar tumbang dengan skor telak 0-3 dalam laga derby sesama tim yang berasal dari Plat H yang sarat gengsi.
Kendal Tornado FC tampil efektif dan disiplin sepanjang pertandingan. Gol pembuka dicetak Gufroni Al Maruf pada masa perpanjangan waktu babak pertama.
Memasuki babak kedua, dominasi tim tamu semakin terlihat setelah Akbar Firmansyah menggandakan keunggulan pada menit ke-59. Sepuluh menit berselang, Ibnu Hajar memastikan kemenangan Kendal Tornado lewat gol ketiga yang kian membungkam suporter tuan rumah yang hadir di Stadion Jatidiri.
Kekalahan ini tak hanya menyakitkan dari sisi hasil, tetapi juga memicu gelombang kritik dari suporter PSIS.
Di berbagai platform media sosial, pendukung Laskar Mahesa Jenar meluapkan kekecewaan mereka terhadap performa tim yang dinilai tanpa arah dan minim pola permainan. Sasaran utama kritik mengarah pada pelatih kepala Jafri Sastra serta manajemen klub.
Sorotan tajam tertuju pada rapuhnya lini belakang PSIS. Duet bek tengah berpostur tinggi besar, Dutra dan Simanca, bersama dua bek sayap Gustur dan Ibrohim, dinilai kewalahan menghadapi kecepatan pemain-pemain Kendal Tornado FC.
Skema pertahanan PSIS kerap dengan mudah ditembus, terutama saat berhadapan dengan pemain sayap dan penyerang bertipe cepat milik Laskar Badai Pantura.
Kondisi ini disebut suporter sebagai sebuah deja vu. Kekalahan dari Kendal Tornado dianggap mengulang skenario saat PSIS dipermalukan tamunya Deltras Sidoarjo dengan skor yang sama 0-3.
Dalam dua laga tersebut, pola masalahnya sama lini belakang mudah diacak-acak oleh lawan yang mengandalkan kecepatan dan transisi cepat.
Kritik semakin keras diarahkan kepada Jafri Sastra. Banyak suporter menilai sang pelatih terlalu monoton dalam menentukan strategi dan komposisi pemain.
Tidak ada perubahan signifikan dari satu pertandingan ke pertandingan lain, meski hasil buruk terus berulang. Bahkan, tagar #JafriSastraOut mulai ramai beemunculan sebagai bentuk kekecewaan mendalam suporter atas peforma PSIS Semarang.
Tekanan kian besar karena posisi PSIS di klasemen saat ini berada di peringkat kedua dari bawah.
Ancaman degradasi ke Liga 3 bukan lagi sekadar ancaman melainkan kemungkinan nyata, jika tren negatif ini terus berlanjut hingga akhir musim.
Manajemen baru PSIS di bawah kepemimpinan Datu Nova juga tak luput dari sorotan. Kebijakan merekrut sejumlah pemain senior berusia di atas 30 tahun, bahkan ada yang menyentuh usia lebih dari 40 tahun seperti Dutra dan Beto, dipertanyakan efektivitasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
