
Mikael Tata sudah siapkan karier masa depannya usai dari dunia sepak bola. (Persebaya)
JawaPos.com — Bintang Persebaya Surabaya Mikael tata ungkap karier masa depan usai pensiun dari dunia sepak bola. Bek muda Persebaya Surabaya itu mulai menata langkah jauh sebelum peluit akhir kariernya benar-benar terdengar.
Mikael Alfredo Tata membuktikan mimpi tak harus berhenti di satu titik. Di tengah kesibukannya sebagai pemain Green Force, dia membuka lembaran baru sebagai mahasiswa di salah satu universitas swasta di Surabaya.
Pemain kelahiran Papua tersebut resmi mengambil Program Studi Manajemen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB). Keputusan itu lahir dari kesadaran panjang tentang pentingnya menyiapkan masa depan sejak dini.
Bagi Tata, sepak bola adalah gairah yang membesarkan namanya hingga ke level tim nasional. Namun pendidikan menjadi pondasi yang ingin dia kokohkan untuk kehidupan setelah pensiun nanti.
Ia paham usia produktif pesepak bola memiliki batas yang tak bisa ditawar. Sementara ilmu dan keterampilan manajerial bisa menjadi bekal seumur hidup, bahkan saat sorak sorai stadion tak lagi menyertainya.
“Kebetulan orang tua di Papua juga memiliki usaha, jadi saya tertarik mendalami ilmu bisnis,” ujar Tata. Kalimat itu menjadi penegas arah masa depannya yang tak hanya berputar di lapangan hijau.
Jurusan Manajemen dipilih karena dinilai paling relevan dengan rencana jangka panjangnya. Ia ingin memahami cara mengelola usaha secara profesional mulai dari perencanaan, pengelolaan keuangan, strategi pemasaran, hingga membangun jaringan bisnis.
Tata tak ingin sekadar meneruskan usaha keluarga tanpa bekal ilmu yang memadai. Dia ingin hadir sebagai pelaku usaha yang paham sistem, strategi, dan tata kelola modern.
Baginya, sepak bola dan pendidikan bukan dua jalur yang saling berbenturan. Keduanya justru bisa berjalan beriringan selama ada komitmen dan manajemen waktu yang disiplin.
Tata mengaku tak terlalu khawatir membagi fokus antara latihan, pertandingan, dan kuliah. Kampus yang dipilihnya memiliki sistem fleksibel yang mendukung mahasiswa dengan karier profesional.
“Saya memang punya minat tinggi untuk pendidikan. Tapi saya juga butuh kampus dengan sistem yang fleksibel karena jadwal latihan dan pertandingan cukup padat,” tuturnya.
Lingkungan juga memberi pengaruh besar terhadap keputusannya melanjutkan pendidikan. Ia mengikuti jejak Malik Risaldi dan Koko Ari yang lebih dulu berkuliah di kampus yang sama.
Keberadaan rekan setim membuatnya merasa tak sendirian dalam menjalani peran ganda sebagai atlet dan mahasiswa. Dukungan tersebut menambah keyakinannya untuk konsisten menempuh pendidikan.
Di atas lapangan, kontribusi pemain 21 tahun itu juga terus berkembang musim ini. Ia mencatatkan delapan penampilan bersama Persebaya Surabaya, dua di antaranya sebagai starter.
Total 282 menit bermain menjadi bukti pelatih mulai memberi ruang lebih besar kepadanya. Kepercayaan itu dibalas dengan kerja keras dan kedisiplinan di setiap laga.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
