
DPP Panser Biru bersama Ashgar Saleh, assitant manager Malut United. (Istimewa)
JawaPos.com — Asghar Saleh buka suara usai dijatuhi sanksi larangan beraktivitas selama tiga bulan oleh Komisi Disiplin PSSI. Asisten Manajer Malut United FC itu dihukum setelah melontarkan protes keras dalam laga kontra Persib Bandung.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah Asghar menjalani sidang Komdis PSSI terkait unggahannya di media sosial. Ia dinilai bersalah karena dianggap menghina dan mendiskreditkan perangkat pertandingan serta melanggar prinsip fair play.
Unggahan itu dibuat seusai pertandingan Persib Bandung melawan Malut United. Isinya berisi kritik terhadap keputusan wasit yang dinilai kontroversial, termasuk soal penalti, penggunaan VAR, hingga jalannya pertandingan.
Komdis menilai kritik tersebut melanggar kode disiplin karena dianggap merugikan integritas kompetisi. Putusan itu pun memantik perdebatan publik soal batas kritik dalam sepak bola Indonesia.
Asghar tidak tinggal diam atas hukuman tersebut. Ia menilai proses sidang hanya formalitas sebelum sanksi dijatuhkan.
Dalam unggahan panjangnya di Facebook pribadinya, ia menulis, “Kritik Dibungkam - Para Mafia Menang. Kamis tengah malam waktu Ternate saya menjalani sidang Komisi Disiplin PSSI. Isi surat mereka terkait pertandingan Persib vs Malut United.”
“Sidang kurang lebih 20 menit dan saya sudah tahu arah sidang itu karena selama ini - Komdis hanya pura pura bersidang agar punya dasar menjatuhkan hukuman yang sudah disiapkan. Apapun pembelaan anda di sidang itu tidak akan didengar.”
Ia mengaku baru pertama kali menjalani sidang Komdis sejak berkecimpung di sepak bola pada 2003. Pengalaman itu disebutnya sulit dipahami karena banyak hal yang menurutnya tidak berjalan adil.
Asghar kemudian menyinggung kasus lain yang masih segar dalam ingatannya, yakni sanksi kepada Yakob Sayuri. Ia menilai keputusan tersebut dijatuhkan secara sepihak tanpa ruang klarifikasi memadai bagi klub.
“Yang paling saya ingat karena masih segar adalah Komdis secara arogan dan sepihak menjatuhkan hukuman larangan 3 pertandingan tanpa banding kepada Yakob Sayuri.”
“Entah apa dasarnya karena Malut United tidak pernah dimintai penjelasan tentang apa yang terjadi di lorong pemain saat ricuh di stadion Indomilk Arena,” tulisnya.
Ia mengaku berada di lokasi saat insiden tersebut terjadi. Menurutnya, Yakob justru menjadi korban rasis oleh oknum yang menggunakan rompi media.
Asghar menilai area lorong pemain seharusnya steril dari media. Namun dalam kasus itu, hanya Malut United yang menerima hukuman, sementara kasus rasis yang sempat viral tidak mendapat respons tegas.
Kembali ke sidang terbarunya, Asghar mempertanyakan tudingan penghinaan yang dialamatkan kepadanya. Ia menegaskan tidak pernah menyebut jabatan resmi klub saat menulis unggahan tersebut.
“Balik lagi ke kerja Komdis - saya dinyatakan bersalah karena ‘menghina’. Siapa yang saya hina? Para mafia yang saya sebut dalam postingan di akun ini yang kemudian dibagikan oleh banyak media lengkap dengan jabatan saya sebagai Wakil Manager.”
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
