Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Februari 2026, 20.06 WIB

Persebaya Surabaya Koleksi Tujuh Kartu Merah, Jadi Tim Paling 'Ganas' di Super League 2025/2026!

Persebaya Surabaya koleksi kartu merah terbanyak di Super League 2025/2026. (Dok. Persebaya)

JawaPos.com - Tujuh kartu merah sudah dikoleksi Persebaya Surabaya hingga pekan ke-22 Super League 2025/2026. Jumlah itu membuat Green Force menjadi tim dengan kartu merah terbanyak musim ini bersama Persijap Jepara.

Dari 22 pertandingan yang dijalani, Persebaya Surabaya mencatat total tujuh kartu merah dengan rata-rata 0,32 per laga. Angka tersebut menempatkan mereka di posisi teratas daftar tim paling sering kehilangan pemain akibat kartu merah.

Persijap Jepara memiliki jumlah dan rata-rata yang sama. Di bawah keduanya, Persija Jakarta, Madura United FC, dan Arema FC masing-masing mengoleksi enam kartu merah dari 22 laga dengan rata-rata 0,27.

Catatan ini jelas bukan statistik yang membanggakan. Tujuh kartu merah berarti tujuh kali Persebaya Surabaya harus melanjutkan pertandingan dengan kekurangan pemain.

Teranyar, kartu merah kembali menghantam Persebaya Surabaya saat bertandang ke markas Persijap Jepara di Stadion Gelora Bumi Kartini, Sabtu (21/2) malam. Dalam laga pekan ke-22 itu, Rachmat Irianto diusir wasit pada menit ke-85 setelah menarik pemain lawan.

Insiden tersebut menambah panjang daftar pelanggaran yang berujung kartu merah musim ini. Situasi makin terasa pahit karena Persebaya Surabaya juga harus menelan kekalahan 1-3 pada laga tersebut.

Koleksi tujuh kartu merah tak bisa dilepaskan dari persoalan konsistensi permainan. Dalam beberapa pertandingan, Persebaya Surabaya terlihat kehilangan kontrol saat menghadapi tekanan lawan.

Ketika organisasi permainan tak berjalan mulus, potensi pelanggaran meningkat. Emosi dan keputusan terlambat di lapangan kerap berujung hukuman dari wasit.

Pelatih Bernardo Tavares tidak menutup mata terhadap kondisi tersebut. Ia menilai timnya melakukan terlalu banyak kesalahan yang berdampak langsung pada hasil pertandingan.

"Saya akan jujur, kami melakukan cukup banyak kesalahan. (Persijap) berhasil memanfaatkan peluang yang kami berikan. Itu tidak normal bagi kami, terutama kebobolan dari situasi transisi setelah kami kehilangan bola. Kami juga kebobolan dari situasi bola mati dan tendangan bebas," kata Tavares.

Pernyataan itu menggambarkan akar persoalan yang lebih dalam dari sekadar kartu merah. Kesalahan elementer dan kurangnya antisipasi membuat tim berada dalam tekanan sepanjang laga.

Dalam dua pertandingan terakhir, Persebaya Surabaya bahkan kebobolan empat gol dari situasi set piece. Kondisi tersebut menunjukkan lemahnya fokus dan koordinasi di momen-momen krusial.

Editor: Hendra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore