
Dokter dan bidan Puskesmas Surabaya belajar teknik penjahitan perineum terkini dalam workshop A-PRESERVE yang digelar FK Unair bersama Dinkes Surabaya. (Juliana Christy /Jawa Pos)
JawaPos.com – Robekan jalan lahir saat persalinan normal sering dianggap hal biasa. Namun yang jarang diketahui, kesalahan diagnosis tingkat robekan dapat menyebabkan komplikasi serius jangka panjang seperti inkontinensia (tidak bisa menahan BAB atau BAK). Melihat tingginya kasus tersebut, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) bersama Dinas Kesehatan Kota Surabaya menggelar A-PRESERVE (Airlangga–Perineal Repair Workshop for Health Service) pada Sabtu (18/10).
Dosen FK Unair, dr. Riska Wahyuningtyas, SpOG, mengungkapkan bahwa robekan derajat 2 sebenarnya masih bisa dijahit oleh bidan atau dokter umum. Namun, permasalahan muncul saat robekan yang lebih berat – yang melibatkan otot penahan BAB – tidak terdeteksi dengan benar. “Sering terjadi under diagnosis. Yang harusnya derajat lebih dari 2 hanya dijahit seperti robekan biasa. Otot di bawah vagina ikut robek tapi tidak terjahit. Akibatnya pasien tidak bisa menahan BAB,” ujarnya.
Secara angka, robekan berat hanya terjadi sekitar 10 persen, tetapi yang mengejutkan, 80 persen kasus tersebut salah diagnosis di faskes pertama. Ketika pasien datang ke rumah sakit rujukan, keluhan sudah berat seperti BAB keluar melalui vagina atau jahitan terasa longgar. “Biasanya pasien mengeluh setelah jahitannya kering. Sudah terlambat, dan akhirnya harus dibongkar dan dijahit ulang setelah 3 bulan,” jelas Riska.
Robekan jalan lahir sendiri terjadi pada 40–60 persen persalinan normal. Faktor risikonya antara lain ukuran bayi besar, jalan lahir kurang elastis, penggunaan alat bantu, hingga tidak dilakukan episiotomi tepat waktu. “Episiotomi dilakukan supaya robekan tidak acak. Tapi sebelum itu, kita harus evaluasi dulu faktor risikonya,” tambah Riska yang juga menjadi bagian dari tim pengabdian masyarakat FK Unair.
Melihat tingginya kasus rujukan dengan penatalaksanaan yang tidak optimal, tim pengabdian masyarakat FK Unair bersama Dinkes Surabaya berinisiatif melakukan pelatihan. Sasaran utama adalah dokter dan bidan Puskesmas yang memiliki kamar bersalin, karena sebagian besar persalinan normal terjadi di sana. “Kelompok terbanyak pengirim pasien komplikasi ke RSUD Dr. Soetomo justru dari Surabaya, jadi kami prioritaskan mereka,” ujar dr. Gatut Hardianto, SpOG, Subsp Urogin Rek.
Menurut Gatut, akar masalahnya adalah diagnosis yang kurang tajam. Luka yang sebenarnya berat dianggap ringan sehingga dijahit dengan teknik biasa. “Aslinya berat, tapi ditatalaksana seperti biasa. Penyembuhannya pasti tidak optimal. Akhirnya tetap jadi masalah dan dirujuk,” tegasnya. Karena itu, pelatihan ini menekankan dua hal: kemampuan diagnosis yang akurat dan teknik penjahitan terkini.
Dalam pelatihan A-PRESERVE, peserta tidak hanya mendapat teori, tetapi juga praktik langsung. Mereka diajarkan cara mengenali derajat robekan, pemilihan benang yang tepat, teknik jahitan terbaru, hingga perawatan luka pasca persalinan. “Tidak sekadar menjahit. Kita ajari apakah perlu diplester, boleh kena air atau tidak, sampai perawatan setelahnya,” tambah Gatut yang juga anggota tim.
Permasalahan lain yang turut dibahas adalah rendahnya kesadaran ibu untuk mencari pertolongan setelah melahirkan. Banyak ibu di Indonesia memilih menahan rasa nyeri atau tidak nyaman bertahun-tahun. “Toleransinya terlalu tinggi. Sudah nyeri saat hubungan atau terasa longgar, tapi dibiarkan dengan alasan ‘habis melahirkan’. Permakluman yang kebablasan ini membuat mereka terlambat mencari bantuan,” kata Gatut.
Melalui kerja sama antara FK Unair dan Dinkes Surabaya, program ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan persalinan di tingkat primer. Diagnosis yang tepat sejak awal akan mencegah komplikasi, menjaga kualitas hidup ibu, dan mengurangi beban rujukan ke rumah sakit besar.
“Kalau dari awal diagnosisnya tepat, tata laksananya juga akan tepat. Ibu tidak perlu mengalami komplikasi sampai bertahun-tahun. Itu tujuan utama kami,” tutur Riska. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
