Logo JawaPos
Author avatar - Image
21 Oktober 2025, 06.16 WIB

Surabaya Panas Membara! Suhu Udara Tembus 37° Celcius, BRIN Ungkap Biang Keroknya

Ilustrasi cuaca panas ekstrem. Kota Surabaya dilanda cuaca panas beberapa hari belakangan. (Hanung Hambara/Jawa Pos) - Image

Ilustrasi cuaca panas ekstrem. Kota Surabaya dilanda cuaca panas beberapa hari belakangan. (Hanung Hambara/Jawa Pos)

JawaPos.com - Belakangan ini, cuaca panas ekstrem di Kota Surabaya dan sekitarnya dikeluhkan oleh masyarakat. Bahkan pada siang hari antara pukul 11.00-14.00 WIB, suhu panas bisa mencapai 37° celcius.

Beberapa akun media sosial bahkan memposting meme, yang menunjukkan gambar jam dinding dengan angka 6, 7, 8, dan 12. Seolah ingin menunjukkan kalau setelah pukul 8 pagi, panasnya Surabaya serasa pukul 12 siang. 

Peneliti Klimatologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Erma Yulihastin mengatakan fenomena cuaca panas ekstrem yang melanda Surabaya ini disebut dengan istilah hot spell.

"Sebenarnya ini fenomena hot spell ya, karena terjadi cuaca panas di atas 35° celcius selama tiga hari berturut-turut. Kalau di atas 37° celcius maka ekstrem, sederhananya begitu," tuturnya kepada JawaPos.com, Senin (20/10).

Namun jika cuaca panas ekstrem yang melanda kota Surabaya dan sekitarnya ini berlangsung hingga lebih dari lima hari, maka sudah bukan lagi fenomena hot spell, melainkan heat wave lokal di area Surabaya Raya. 

"Kalau heat wave biasanya menjangkau area yang luas, biasanya panas itu menjalar dari utara kemudian ke selatan. Tapi ini bukan di benua Asia ya, karena hanya lokal, menjalar di area Jatim bagian utara," lanjutnya. 

Ahli klimatologi lulusan ITB ini menilai cuaca panas ekstrem yang melanda Surabaya dan sekitarnya belakangan ini merupakan efek langsung dari perubahan iklim yang kini semakin terasa nyata.

"Kan sudah terbukti sekarang, bisa dirasakan sendiri (dampak perubahan iklim). Saya juga meyakini bahwa ini ada kontribusi dari memanasnya suhu permukaan laut," terang Prof. Erma.

Proses memanasnya suhu permukaan laut ini yang bisa memperparah hot spell di Jatim sehingga lebih tinggi dari daerah lain. Sebab, angin monsoon dari Australia ini memang dominan bersifat kering.

"Ketika bertemu dengan permukaan laut yang juga panas dan tidak membawa kelembapan, tentunya adalah tadi, suhu menjadi panas dan kering. Meskipun mendung, tapi belum cukup untuk bisa mendatangkan hujan," ungkapnya.

Erma berharap pemerintah daerah tidak abai terhadap cuaca panas ekstrem yang terjadi. Ia menyarankan langkah sederhana untuk mengurangi dampaknya, seperti menanam pohon dan memperbanyak ruang hijau. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore