
Kondisi di dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pasca erupsi Gunung Semeru, Rabu (19/11) lalu. (Novia Herawati/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Bencana erupsi Gunung Semeru pada Rabu sore (19/11), menyisakan duka mendalam bagi ratusan warga yang tinggal di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Rumah-rumah mereka hancur disapu awan panas guguran (APG) erupsi Gunung Semeru. Banyak yang porak-poranda, sebagian bangunan nyaris rata dengan tanah dan menyisakkan puing-puing bercampur debu.
Dari pantauan JawaPos.com di Dusun Gemukmas dan Kamar A Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, puluhan rumah warga tampak rusak parah karena tertimbun material vulkanik Semeru.
Tak hanya rumah, ladang hingga sawah milik warga setempat juga ikut lebur. Puing-puing rumah yang berserakan menambah kengerian di kawasan tersebut. Terlebih saat malam hari, sudah seperti desa 'mati'.
Melangkah lebih dalam, hawa panas begitu terasa di dua dusun tersebut. Material vulkanik, seperti pasir dan batu besar juga memenuhi area pemukiman. Bahkan bongkahan batu berukuran besar masih mengeluarkan asap.
Sugiha, warga dusun Sumbersari hanya bisa pasrah melihat rumahnya hampir rata dengan tanah. Tersisa atap dengan genteng yang sudah tak berjejer rapi. Ia berhasil selamat, namun tidak dengan barang-barang di rumahnya.
"Habis. Rumah saya habis tertimbun, nggak ada (barang-barang yang diselamatkan), nggak bisa diambil juga karena semua sudah ketutup (sama material vulkanik Gunung Semeru)," ucap Nisman lirih.
Nasib serupa dialami oleh Husen, warga Dusun Gemukmas. Rumah orang tuanya tertimbun material vulkanik hampir setengah dari tinggi bangunan aslinya. Ia pun berusaha mengamankan barang pribadi yang penting.
"Ya (nyelamatin) yang kecil-kecil saja, ini saya bawa selimut. Kalau barang yang besar, seperti kursi, meja, nggak bisa, ini saja (material vulkanik) segini (sambil tangan menunjukkan dada)," tutur pria berkulit coklat itu.
Sebelumnya, terjadi Erupsi Gunung Semeru pada Rabu (19/11) pukul 14.13 WIB. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter di atas puncak atau 5.676 MDPL.
Awan panas berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam seismogram dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur melaporkan ada 200 rumah warga rusak. 21 rumah di antaranya mengalami rusak parah. Selain itu, sebanyak 124 hewan ternak, yakni sapi dan kambing juga mati.
Ratusan warga yang selamat kini bertahan di posko pengungsian, sudah empat hari. Mereka mencoba bertahan sambil menunggu kepastian tentang masa depan tempat tinggal mereka yang 'hilang'. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
