Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Februari 2026, 23.35 WIB

Respons Jusuf Kalla Soal Tragedi Siswa SD Bunuh Diri di Ngada NTT: Ini Akibat Kemiskinan

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla memberikan respons terkait tragedi siswa SD bunuh diri di Ngada, NTT. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla memberikan respons terkait tragedi siswa SD bunuh diri di Ngada, NTT. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Wakil Presiden Republik Indonesia (RI) ke-10 dan ke-12, Muhammad Jusuf Kalla turut menyoroti kasus bunuh diri seorang siswa SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ditemui setelah menghadiri Sidang Paripurna Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) di Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Jumat (6/2), Jusuf Kalla tak banyak berkomentar.

Menurutnya, tragedi yang menimpa YBR, 10 tahun, siswa kelas IV SD Negeri RJ, mencerminkan potret kelam dunia pendidikan yang masih dibelit persoalan kemiskinan dan ketimpangan sosial.

"Ya iru lah, komentarnya kita sudah banyak yang dibicarakan bahwa Indonesia ini (permasalahan) kemiskinan memang harus kita atasi, karena itu (tragedi bocah SD bunuh diri di NTT) akibat dari kemiskinan," ucap JK.

Ketika ditanya lebih lanjut oleh awak media tentang apa yang perlu dievaluasi oleh pemerintah agar tragedi serupa tidak terjadi lagi di masa mendatang, Jusuf Kalla juga enggan berkomentar banyak.

"Ya ekonominya," ucap politikus yang pernah menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan Indonesia ke-18 tersebut, sambil berjalan meninggalkan gedung Airlangga Convention Center (ACC).

Belakangan, masyarakat digegerkan dengan kisah seorang siswa kelas IV SD berinisial YBR, 10 tahun, yang nekat menghabisi nyawanya sendiri dengan cara gantung diri di sebuah pohon cengkeh, Kamis (29/1) pukul 11.00 WITA.

Peristiwa pilu yang terjadi di Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur bermula dari permintaan sederhana yang tak mampu dipenuhi.

Sehari sebelum kejadian, YBR sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun karena keterbatasan ekonomi, sang ibu dengan berat hati tak dapat mengabulkan permintaan anaknya.

Sang ibu, MGT, 47, mengungkapkan bahwa sebelum kejadian, YBR menginap di rumahnya pada malam hari. Pagi harinya sekitar pukul 06.00 WITA, YBR diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.

Ayah YBR diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Pada Kamis pagi, warga sempat juga melihat YBR duduk di depan rumah neneknya. Padahal pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBR ditemukan warga yang tengah menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.

Tragedi ini semakin mengiris hati dengan sepucuk kertas yang ditemukan oleh Polres Ngada. Kertas tersebut berisi surat wasiat tulisan tangan YBR yang ditujukan untuk sang ibu dan keluarga.

Berikut isi surat yang ditinggalkan YBR:
KERTAS TII MAMA RETI (Surat buat Mama Reti)
MAMA GALO ZEEMAMA MOLO JA’OGALO (Mama saya pergi dulu, jangan menangis ya Mama)
MATA MAE RITA EE MAMA (Mama relakan Saya pergi tidak perlu Mama)
NE’E GAE NGAO EEMOLO MAMA (Menangis dan mencari atau merindukan saya) 

Editor: Dony Lesmana Eko Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore