Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 November 2025, 02.17 WIB

Ungkap Beda Manusia dengan AI, Wamenkomdigi Nezar Patria: Manusia Punya Empati dan Critical Thinking

Ilustrasi AI. (Freepik/Ann) - Image

Ilustrasi AI. (Freepik/Ann)

JawaPos.com - Perkembangan teknologi kecerdasan artifisial (AI) disadari atau tidak, membawa disrupsi besar di berbagai sektor. Salah satu yang paling dikhawatirkan adalah cara manusia dalam berkomunikasi.

Melalui teknologi generative AI, proses pembuatan konten seperti teks, gambar, hingga video kini dapat dilakukan secara cepat dengan keterlibatan manusia yang semakin minim.

Namun, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa AI tetap memiliki keterbatasan mendasar yang membedakannya dari manusia, yakni ketiadaan empati dan kemampuan berpikir kritis.

“Satu hal yang membuat manusia berbeda dengan mesin ini adalah kemampuan empati dan kemampuan critical thinking,” ungkap Nezar di Depok, dikutip Minggu (9/11).

Nezar menjelaskan, komunikasi manusia tidak hanya berlangsung melalui kata-kata, tetapi juga melibatkan ekspresi dan gestur tubuh yang mengandung makna emosional.

Hal tersebut menurut dia tidak bisa digantikan oleh AI yang bekerja berdasarkan perhitungan matematis.

“Mesin artificial intelligence ini di belakangnya bekerja dengan rumus-rumus matematika, semuanya dengan angka-angka. Sementara kita punya cara berkomunikasi yang khas manusia, yang kadang-kadang hanya bisa dibaca oleh sesama manusia,” jelasnya.

Selain itu, Nezar juga menyoroti fenomena halusinasi AI, di mana sistem dapat menghasilkan informasi yang tidak akurat atau bahkan fiktif.

Ia mencontohkan sebuah kasus yang melibatkan konsultan internasional yang harus mengembalikan dana kepada pemerintah Australia, karena laporan yang dibuat merujuk pada sumber data yang ternyata tidak pernah ada.

“Salah satu konsultan terbesar di dunia harus mengembalikan uang karena hasil konsultansi yang mereka buat, riset dan survei yang mereka lakukan, ternyata berasal dari sumber yang fiktif. Dia merujuk kepada sejumlah dokumen dan jurnal yang ternyata tidak pernah ada,” tandasnya.

Karena itu, Nezar mengajak para praktisi dan akademisi komunikasi untuk terus mengasah kemampuan empati dan berpikir kritis.

Agar nilai-nilai etika dan kemanusiaan tetap terjaga dalam setiap pesan yang disampaikan.

Ia juga menegaskan pentingnya peran manusia dalam pengambilan keputusan, guna meminimalkan potensi kesalahan yang dapat timbul dari penggunaan AI.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore