Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Desember 2025, 21.00 WIB

Dari GPU ke Harga RAM DDR 5 Naik: Bagaimana AI Mengubah Siklus Harga Komponen PC

Ilustrasi RAM PC Corsair. (Corsair)

JawaPos.com - Selama bertahun-tahun, para perakit PC terbiasa dengan pola lama: jika ada komponen yang tiba-tiba menjadi mahal, biasanya itu GPU. Krisis mining kripto 2020–2022 menjadi contoh paling nyata ketika harga kartu grafis melonjak dua bahkan tiga kali lipat.

Namun memasuki 2025, peta berubah. GPU memang masih mahal, tetapi bukan lagi pusat masalah. Kini justru RAM yang mengambil alih panggung sebagai komponen dengan kenaikan harga paling agresif.

Kenaikan ini terasa nyata di Indonesia. Pantauan JawaPos.com pada 5 Desember 2025 di marketplace memperlihatkan harga RAM DDR5 melonjak tajam. Paket 32GB yang pada 2024 hanya sekitar Rp 3,5 juta kini berada di rentang Rp 6,5–7,7 juta.

Varian 64GB menembus Rp 12–13 juta, sementara kit 128GB bahkan mencapai Rp 29 juta. Crucial Pro Overclocking 64GB DDR5-6400 ikut naik ke Rp 13,5 juta, padahal seri-seri Crucial sebelumnya dikenal ramah kantong.

Fenomena ini bukan sekadar fluktuasi pasar. Ini menandai perubahan mendasar dalam cara produsen memori mengalokasikan kapasitas mereka. Jika dulu pusat masalah ada pada GPU akibat demam kripto, kali ini AI-lah yang mengubah wajah industri.

Micron, salah satu produsen memori terbesar dunia, menjadi yang paling blak-blakan. Lewat pengumuman resmi pada 3 Desember 2025, mereka menyatakan akan menghentikan seluruh bisnis konsumer Crucial mulai 2026. Keputusan itu datang karena lonjakan permintaan memori untuk pusat data AI.

“Pertumbuhan yang digerakkan oleh AI di pusat data telah menyebabkan lonjakan permintaan memori dan penyimpanan. Micron membuat keputusan sulit untuk keluar dari bisnis konsumer Crucial demi meningkatkan pasokan bagi pelanggan strategis kami,” ujar Sumit Sadana, EVP Micron Technology.

Dengan kata lain, kapasitas yang sebelumnya menjadi RAM untuk PC kini dialihkan untuk memori kelas enterprise seperti HBM dan DDR5 server.

SK Hynix, pemasok HBM terbesar untuk Nvidia, menghadapi situasi yang sama. Pimpinan SK Group menyatakan bahwa lonjakan permintaan memori AI begitu besar hingga mereka kewalahan.

“Kami menerima begitu banyak permintaan pasokan memori sampai kami khawatir bagaimana bisa memenuhi semuanya,” katanya dalam sebuah forum industri. Kapasitas HBM dan DRAM server mereka untuk 2026 dilaporkan sudah habis dipesan.

Samsung Electronics juga mengambil arah serupa. Laporan industri menyebut perusahaan itu menetapkan memori AI seperti HBM dan DDR5 server sebagai prioritas produksi utama, sementara DRAM konsumer tidak mendapat porsi ekspansi signifikan. Keputusan ini mencerminkan realitas baru: pasar AI jauh lebih menguntungkan dibanding pasar PC konsumen.

Maka bergeserlah siklus harga komponen PC. Setelah GPU yang naik saat era kripto, kini RAM mengikuti pola serupa di era AI. Bedanya, permintaan AI bukan sementara.

Model-model besar dan inference generasi baru terus membutuhkan memori yang semakin besar dan semakin cepat. Setiap unit HBM bernilai jauh lebih tinggi daripada RAM konsumer, sehingga wajar bila produsen mengoptimalkan kapasitas ke segmen tersebut.

Mengapa RAM Sangat Penting bagi Industri AI

Model AI generasi terbaru, baik untuk training maupun inference, membutuhkan dua hal sekaligus. Pertama, bandwidth memori yang sangat tinggi (kecepatan akses). Kedua, kapasitas memori yang sangat besar (ruang penyimpanan data).

Editor: Dhimas Ginanjar
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore