
Robot humanoid dipamerkan pada Humanoids Summit di Mountain View, California. (The Wall Street Journal)
JawaPos.com — Di tengah derasnya arus investasi global ke sektor kecerdasan buatan dan robotika, robot humanoid kerap diposisikan sebagai simbol masa depan dunia kerja.
Tokoh teknologi seperti Elon Musk, Jeff Bezos, hingga Mark Zuckerberg berada dalam ekosistem yang sama, yakni mendorong keyakinan bahwa mesin menyerupai manusia akan segera menjadi bagian dari aktivitas industri dan domestik. Namun, di balik optimisme tersebut, para pembuat robot humanoid justru menyampaikan penilaian yang jauh lebih hati-hati.
Gelontoran dana miliaran dolar AS mengalir ke puluhan perusahaan rintisan robot humanoid dengan ambisi menempatkan mesin-mesin ini di gudang logistik, pabrik manufaktur, hingga rumah tangga. Meski demikian, para pemimpin industri menilai ekspektasi publik dan investor telah melampaui kesiapan teknologi yang tersedia saat ini.
Melansir The Wall Street Journal, Rabu (31/12/2025), para insinyur dan eksekutif perusahaan robotika mengakui bahwa robot humanoid masih menghadapi keterbatasan mendasar, terutama dalam menangani tugas kompleks yang selama ini dikerjakan manusia.
“Tantangannya bukan sekadar membuat robot humanoid, melainkan memastikan robot tersebut benar-benar dapat menjalankan pekerjaan yang memiliki nilai guna nyata di lingkungan industri,” ujar Pras Velagapudi, Kepala Teknologi Agility Robotics.
Perusahaan tersebut memang telah menempatkan ratusan unit robot Digit di gudang pelanggan seperti Amazon.com dan produsen suku cadang otomotif Schaeffler. Namun, Velagapudi menegaskan bahwa kemampuan robot saat ini masih terbatas pada tugas-tugas sederhana, seperti memindahkan barang di lingkungan terkontrol.
“Ada lompatan asumsi yang sangat besar dari melihat robot melipat cucian hingga membayangkan pelayan rumah tangga yang bisa melakukan semuanya,” katanya.
Nada kehati-hatian serupa terdengar dalam Humanoids Summit di Mountain View, California, yang mempertemukan pelaku utama industri robot humanoid global. CEO Gatlin Robotics, Isaac Qureshi, menggambarkan proses pengembangan robot pembersih kantornya sebagai perjalanan bertahap.
“Kami akan mengajarkan robot Gatlin melakukan tugas-tugas paling dasar terlebih dahulu, seperti membersihkan permukaan yang kotor dan mengosongkan tempat sampah. Sementara itu, membersihkan toilet masih menjadi target besar jangka panjang,” ujarnya.
Sementara itu, Kaan Dogrusoz, mantan insinyur Apple dan CEO Weave Robotics, menilai teknologi robot humanoid saat ini belum matang sebagai produk komersial.
“Ada banyak kemajuan teknologi dan talenta luar biasa, tetapi ini belum menjadi produk yang terdefinisi dengan baik,” kata Dogrusoz, seraya membandingkannya dengan kegagalan komersial Apple Newton pada 1990-an.
Kritik juga datang dari kalangan veteran industri. Rodney Brooks, salah satu pendiri iRobot, menyebut gagasan robot humanoid sebagai asisten serba bisa masih bersifat spekulatif. Dia menilai keterbatasan sensor, keseimbangan, dan manipulasi fisik tidak mudah diatasi hanya dengan kecerdasan buatan dan pelatihan berbasis data visual.
Pandangan skeptis tersebut berseberangan dengan optimisme Elon Musk. CEO Tesla itu memperkirakan permintaan robot humanoid Optimus akan “melonjak tajam” dan menargetkan produksi massal pada akhir dekade ini. Optimisme serupa juga diungkapkan pimpinan perusahaan teknologi besar lainnya yang melihat robot sebagai solusi atas kekurangan tenaga kerja global dan penuaan populasi.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan biaya dan keselamatan masih menjadi hambatan utama. Mitra McKinsey, Ani Kelkar, menilai sebagian besar anggaran penerapan robot justru terserap pada sistem pendukung dan pengamanan, sehingga hanya sebagian kecil dana yang benar-benar dialokasikan untuk mesin robot itu sendiri.
Dengan demikian, di tengah euforia investasi dan proyeksi ambisius, industri robot humanoid masih berada dalam fase pencarian kegunaan paling realistis. Untuk saat ini, robot dinilai lebih cocok mengisi peran pada tugas-tugas berulang dengan tingkat risiko rendah.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
