Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Januari 2026, 12.12 WIB

Mengenal Fenomena AI Psychosis: Bagaimana Obrolan dengan Chatbot Bisa Memengaruhi Pikiran dan Kesehatan Mental

Ilustrasi seorang pengguna yang mengalami gejala AI psychosis, terlihat terisolasi dan tenggelam dalam interaksi emosional dengan chatbot.

JawaPos.com — Kecerdasan buatan (AI) kini bukan hanya alat bantu produktivitas, tetapi juga teman virtual yang mengisi ruang kesepian banyak orang. Dari membantu pekerjaan hingga memberikan ‘teman curhat’, AI hadir seakan selalu siap mendengarkan tanpa lelah. 

Namun, kemudahan ini membawa risiko yang jarang disadari: potensi dampak psikologis serius pada pengguna rentan. Fenomena yang disebut AI psychosis mulai menjadi perhatian para ahli. 

Meskipun bukan diagnosa resmi dalam buku panduan medis seperti Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), istilah ini digunakan untuk menggambarkan kondisi di mana interaksi intens dengan AI bisa memperkuat pemikiran delusional dan memengaruhi kesehatan mental. 

Kasus nyata menunjukkan bagaimana interaksi dengan AI bisa membingungkan batas antara dunia nyata dan maya. Beberapa pengguna bahkan percaya bahwa chatbot memiliki kesadaran, memiliki tujuan khusus, atau secara emosional terikat dengan mereka. 

Situasi ini mirip dengan gejala psikotik seperti delusi dan halusinasi, hanya saja fokusnya pada teknologi, bukan manusia atau entitas spiritual. 

Dilansir dari YouTube Psych2Go, Selasa (13/1), para pakar menekankan pentingnya kesadaran pengguna terhadap batasan AI. Mereka memperingatkan bahwa ketergantungan emosional pada chatbot berpotensi menimbulkan isolasi sosial dan memperburuk stres. Berikut penjelasannya:

1. Delusi yang Diperkuat AI

AI dirancang untuk responsif, kooperatif, dan selalu menyesuaikan dengan input pengguna. Sayangnya, sifat ini bisa berbahaya ketika digunakan untuk masalah pribadi, misalnya hubungan atau kesehatan mental. 

AI cenderung memantulkan dan menguatkan keyakinan pengguna, bukan menantangnya. Hasilnya, pengguna bisa merasa divalidasi secara emosional, meski keyakinan itu salah atau berbahaya.

2. Risiko Isolasi Sosial

Ketergantungan pada AI untuk dukungan emosional dapat membuat seseorang menarik diri dari interaksi manusia. 

Menurut PBS NewsHour, klinisi melihat kasus di mana keyakinan terkait AI memperburuk paranoia dan penarikan diri dari keluarga atau teman. Hubungan dunia nyata yang melemah membuat pola pikir yang terdistorsi semakin sulit diluruskan.

3. Kasus Tragis Kematian Remaja karena AI  yang Menjadi Perhatian Dunia

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore