Jeff Bezos saat menghadiri kegiatan Blue Origin di tengah langkah perusahaan memasuki bisnis internet satelit global (The Independent)
JawaPos.com - Blue Origin, perusahaan antariksa yang didirikan dan didukung Jeff Bezos, resmi memasuki bisnis internet satelit global. Langkah ini menandai perluasan strategis Blue Origin dari sekadar penyedia layanan peluncuran roket menjadi pemain infrastruktur digital, sekaligus membuka babak baru persaingan langsung dengan SpaceX milik Elon Musk dan jaringan satelit Amazon.
Melalui layanan baru bernama TeraWave, Blue Origin memposisikan diri sebagai penyedia jaringan komunikasi satelit untuk pelanggan korporasi, pusat data, dan pemerintahan, dengan rencana pengerahan awal dimulai pada kuartal keempat 2027.
Dilansir dari The Independent, Jumat (23/1/2026), arsitektur teknis TeraWave dirancang untuk menjangkau wilayah yang selama ini sulit dilayani jaringan darat.
"Arsitektur TeraWave terdiri atas 5.408 satelit yang saling terhubung secara optik di orbit rendah dan orbit menengah Bumi, menjangkau wilayah terpencil, pedesaan, hingga pinggiran kota, di mana pembangunan jalur serat optik yang beragam membutuhkan biaya besar, sulit secara teknis, atau memakan waktu lama," tulis Blue Origin dalam pernyataannya.
Chief Executive Officer Blue Origin, Dave Limp, menegaskan bahwa TeraWave sejak awal dirancang dengan pendekatan berbeda.
"Yang membedakan TeraWave adalah layanan ini dibangun secara khusus untuk pelanggan korporasi,"ujarnya.
Menurut Limp, fokus tersebut mencerminkan kebutuhan pasar yang menuntut konektivitas berkapasitas tinggi, stabil, dan berlatensi rendah.
Blue Origin juga menekankan bahwa TeraWave tidak sekadar menawarkan kecepatan, melainkan ketahanan jaringan.
Dalam pernyataan resminya, perusahaan menyebutkan bahwa terminal pengguna dan gerbang jaringan TeraWave dapat dikerahkan dengan cepat di berbagai wilayah dunia serta terintegrasi dengan infrastruktur berkapasitas tinggi yang sudah ada, guna memperkuat ketahanan sistem komunikasi global.
Masuknya Blue Origin ke sektor ini memperketat persaingan di pasar internet satelit yang selama ini didominasi Starlink. Layanan milik SpaceX tersebut telah mengoperasikan lebih dari 9.000 satelit dan melayani jutaan pengguna di berbagai negara, termasuk kalangan bisnis dan pemerintah.
Di sisi lain, Amazon, perusahaan yang didirikan Jeff Bezos pada 1994 juga mengembangkan jaringan satelitnya sendiri melalui layanan Leo, yang sebelumnya dikenal sebagai Project Kuiper.
Amazon menargetkan pembangunan 3.236 satelit orbit rendah dan telah membuka uji coba layanan terbatas untuk pelanggan korporasi menjelang peluncuran komersial penuh.
Persaingan ini mencerminkan perubahan mendasar dalam pembangunan tulang punggung komunikasi global. Permintaan konektivitas berkecepatan tinggi terus meningkat, seiring pertumbuhan pusat data, komputasi awan, dan kecerdasan buatan, yang semakin bergantung pada jaringan global yang andal dan terdistribusi.
Meski demikian, tantangan teknis dan operasional masih membayangi ambisi Blue Origin. SpaceX tetap unggul dalam efisiensi peluncuran roket, sementara pengelolaan ribuan satelit menuntut kesiapan regulasi dan logistik lintas negara.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
