
Sejumlah pesawat Citilink mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Kamis (24/7/2025). (Hanung Hambara/Jawa Pos)
JawaPos.com - Momen libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya identik dengan lonjakan wisatawan ke Bali. Hotel penuh, pantai padat, dan bandara sibuk menjadi pemandangan tahunan yang seolah tak pernah berubah.
Namun, situasi berbeda justru terasa pada libur akhir tahun kali ini. Pulau Dewata dilaporkan tidak seramai tahun-tahun sebelumnya, memunculkan perbincangan luas di kalangan pelaku wisata hingga warganet.
Sejumlah pengelola destinasi dan pelaku industri pariwisata di Bali mengakui adanya penurunan kunjungan wisatawan selama periode Nataru. Kondisi ini dinilai tidak lazim, mengingat akhir tahun biasanya menjadi puncak musim liburan domestik maupun internasional.
Bahkan, sebagian pihak menyebut situasi ini sebagai 'anomali wisata' yang patut dicermati lebih jauh.
Indikasi sepinya Bali tidak hanya dirasakan di lapangan, tetapi juga tercermin dari data pergerakan penerbangan. Pantauan melalui layanan pelacak penerbangan seperti FlightRadar menunjukkan lalu lintas udara menuju dan dari Bali tidak sepadat periode serupa di tahun-tahun sebelumnya.
Temuan ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial, terutama setelah muncul perbandingan visual dengan negara tetangga, Thailand.
Dalam sejumlah unggahan, peta radar penerbangan memperlihatkan wilayah udara Thailand—khususnya di sekitar Bangkok—dipenuhi ikon pesawat yang menandakan tingginya aktivitas penerbangan.
Sebaliknya, kawasan udara Bali tampak relatif lebih lengang pada waktu yang sama. Perbandingan ini memantik diskusi publik: apakah wisatawan kini lebih memilih berlibur ke luar negeri ketimbang destinasi domestik favorit seperti Bali?
Fenomena ini cukup mengejutkan mengingat Bali selama ini menjadi tulang punggung pariwisata nasional. Pada periode libur panjang, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai biasanya mencatat peningkatan signifikan pergerakan penumpang.
Namun, kali ini grafik tersebut tampak melandai, setidaknya berdasarkan pantauan awal lalu lintas udara.
Perubahan pola perjalanan wisatawan diduga menjadi salah satu penyebab utama. Setelah pandemi, preferensi berlibur masyarakat dinilai semakin beragam. Wisatawan tidak lagi terpaku pada destinasi yang sama dari tahun ke tahun.
Negara-negara Asia Tenggara seperti Thailand, Vietnam, hingga Malaysia kini menjadi alternatif yang dianggap menawarkan pengalaman baru dengan biaya yang relatif terjangkau.
Selain faktor preferensi, harga tiket pesawat juga disebut memainkan peran penting. Perbandingan biaya perjalanan menjadi pertimbangan utama bagi wisatawan, terutama saat merencanakan liburan akhir tahun yang biasanya membutuhkan anggaran lebih besar.
Penelusuran JawaPos.com pada sejumlah platform pemesanan tiket online menunjukkan bahwa selisih harga tiket pesawat rute Jakarta–Bali dan Jakarta–Bangkok pada periode akhir Desember tergolong sangat tipis.
Untuk jadwal penerbangan pada tanggal 28 hingga 31 Desember, tiket pesawat dari Jakarta menuju Bangkok tercatat berada di kisaran Rp 1,4 juta hingga Rp 1,5 juta sekali jalan. Harga tersebut tersedia dari beberapa maskapai berbiaya rendah seperti AirAsia dan Lion Air atau Citilink.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
