Logo JawaPos
Author avatar - Image
14 Desember 2025, 03.40 WIB

Seni untuk Tetap Tenang: 7 Cara untuk Melindungi Kedamaian Anda Ketika Orang Lain Mencoba Menguras Energi

seseorang yang tetap hidup tenang. ( Freepik/freepik) - Image

seseorang yang tetap hidup tenang. ( Freepik/freepik)


JawaPos.com - Dalam hidup, akan selalu ada orang yang membawa cahaya—dan ada pula yang tanpa sadar (atau sengaja) menarik energi kita sampai habis. Mereka bisa muncul di lingkungan kerja, keluarga, pertemanan, bahkan hubungan asmara. Kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain bersikap, tetapi kita selalu bisa mengendalikan cara kita merespons.
Menjaga kedamaian batin bukan berarti menghindari masalah, melainkan mengetahui cara menjaga ruang emosional kita tetap bersih dari polusi eksternal.

Dilansir dari Geediting, terdapat tujuh cara seni untuk tetap tenang dan menjaga energi Anda dari terkuras oleh orang lain.

1. Kenali Batas Emosi Anda: Tidak Semua Masalah Harus Anda Tampung

Sering kali kita merasa bertanggung jawab untuk mendengarkan, menenangkan, atau memperbaiki hidup orang lain. Namun, pada titik tertentu, empati berlebih justru bisa menjadi racun.
 
Belajar berkata “cukup” adalah seni yang penting. Anda boleh peduli, tetapi Anda tidak wajib memikul semua beban. Ketika seseorang mulai mengeluh tanpa henti, menjelekkan orang lain, atau menuntut perhatian yang tidak sehat, sadarilah bahwa itu bukan tanggung jawab Anda untuk terus mendengarkan.
 
Membiarkan masalah orang lain tetap menjadi milik mereka adalah bentuk perlindungan diri.

2. Tarik Napas, Lihat dari Jarak, dan Jangan Ikut Terlarut

Emosi itu menular. Orang yang gelisah bisa membuat ruangan terasa sesak. Orang yang marah bisa membuat hati ikut panas.
 
Di saat seperti ini, teknik paling sederhana namun ampuh adalah: ambil jarak sejenak. Secara fisik bila memungkinkan, secara mental bila tidak.
 
Tarik napas tiga kali perlahan. Fokus pada sensasi udara yang masuk dan keluar.
Dengan begitu, Anda memutus “rantai emosi” mereka sebelum energi negatif itu melekat pada Anda.

3. Jangan Bereaksi Secara Instan – Diam Adalah Senjata

Orang penguras energi sering mencari reaksi: drama, debat, atau ledakan emosional.
Ketika Anda tidak memberi apa yang mereka inginkan, mereka kehilangan kekuatannya.
Latih diri untuk tidak langsung menjawab.
 
Diam sejenak memberi Anda waktu untuk:
menilai situasi dengan jernih,
memilih kata dengan hati-hati,
menghindari konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Diam bukan tanda kalah. Diam adalah cara elegan untuk menang tanpa berperang.

4. Tentukan Prioritas: Energi Anda Tidak Untuk Semua Orang

Anda memiliki jumlah energi harian yang terbatas. Jika terlalu banyak digunakan untuk manusia yang salah—mereka yang drama tanpa solusi, mereka yang menuntut waktu Anda tanpa menghargai Anda—maka Anda menguras diri untuk hal yang tidak memberi nilai.
 
Tentukan siapa yang layak mendapatkan:
waktu Anda,
perhatian Anda,
serta ruang di hati dan pikiran Anda.

Melindungi kedamaian artinya berani memilih siapa yang boleh dekat dan siapa yang cukup dari kejauhan.

5. Gunakan Bahasa Tubuh dan Kata yang Tegas, Namun Lembut

Anda bisa mempertahankan kedamaian tanpa bersikap kasar.
Salah satu caranya adalah dengan berkomunikasi secara tegas:

“Maaf, aku tidak bisa membicarakan ini sekarang.”

“Aku butuh waktu sendiri sebentar.”

“Aku mendengarmu, tapi aku tidak bisa membantu lebih jauh dari ini.”

Tegas bukan berarti keras. Tegas adalah seni menjaga diri tetap utuh tanpa menyakiti orang lain.

6. Pelihara Ritual Kedamaian Harian

Kedamaian tidak datang tiba-tiba; ia dirawat.
Ciptakan “ritual kecil” setiap hari yang mengisi ulang energi Anda, seperti:

berjalan 10 menit di luar,

journaling,

membaca sesuatu yang menenangkan,

mematikan ponsel selama satu jam,

mendengarkan musik yang membuat hati terasa lapang.

Ketika Anda punya benteng kedamaian dari dalam, orang luar tidak mudah mengguncangnya.

7. Jika Perlu, Lepaskan – Melepaskan Bukan Kegagalan

Ada hubungan dan interaksi yang, sekeras apa pun kita berusaha, tetap menguras energi.
Ketika semua cara sudah dicoba dan tidak ada perubahan, saatnya Anda mempertimbangkan untuk melepas—mengurangi interaksi atau menjauh sepenuhnya.
 
Ini bukan tindakan egois. Ini adalah bentuk penghargaan pada diri sendiri: Anda layak hidup tanpa kelelahan emosional yang berkepanjangan.
Kadang, kedamaian datang bukan dari menambah sesuatu, melainkan dari mengurangi.

Kesimpulan: Kedamaian Adalah Seni, dan Anda Pelukisnya

Tidak ada yang lebih berharga daripada ketenangan batin. Dunia bisa ribut, orang lain bisa kacau, tapi Anda punya kendali penuh terhadap ruang internal Anda.
Seni untuk tetap tenang terletak pada kemampuan memilih respon, menata batas, memelihara diri, serta berani melepaskan hal-hal yang tidak lagi sejalan dengan keseimbangan jiwa.
Biarkan hidup Anda dipenuhi koneksi yang sehat, percakapan yang menenangkan, dan energi yang membangun.
Pada akhirnya, kedamaian bukan sesuatu yang ditemukan—kedamaian adalah sesuatu yang Anda ciptakan dan lindungi setiap hari.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore