Logo JawaPos
Author avatar - Image
31 Oktober 2025, 13.35 WIB

Imbas Tragedi Ponpes Syekh Abdul Qodir Jaelani Situbondo Ambruk, BPBD Jatim Perkuat Mitigasi di Pesantren

BPPBD mengecek kondisi banguna ponpes Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani Situbondo yang ambruk dan mengakibatkan satu santriwati meninggal. (Humas BPBD Jatim) - Image

BPPBD mengecek kondisi banguna ponpes Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani Situbondo yang ambruk dan mengakibatkan satu santriwati meninggal. (Humas BPBD Jatim)

JawaPos.com - Tragedi ambruknya atap asrama putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani di Besuki, Kabupaten Situbondo menjadi pelajaran penting bagi banyak pihak. 

Apalagi, insiden itu hanya berselang satu bulan dengan tragedi serupa, yakni ambruknya bangunan empat lantai di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang mengakibatkan 63 santri meregang nyawa.

"Kami menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas musibah yang menimpa keluarga besar Ponpes Salafiyah Syafi'iyyah, Besuki, Situbondo," tutur Kalaksa BPBD Jatim,  Gatot Soebroto, Jumat (31/10).

Menurut Gatot, tragedi ini menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi di lingkungan pondok pesantren, sehingga tragedi bangunan ambruk yang menimpa Ponpes Al Khoziny di Sidoarjo dan Ponpes di Situbondo bisa dicegah. 

"Bencana ini bisa memberikan hikmah dan pelajar bagi kita semua. Selain perlu mengenali potensi bencana alam di sekitar, lingkungan pesantren juga perlu dikenalkan mitigasi bencana dan penanggulangannya," imbuhnya.

Saat ini, lanjut Gatot, BPBD Jatim sedang memperkuat ketangguhan di lingkungan pesantren, melalui program Pesantren Tangguh Bencana (Pestana) dan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).

"Nantinya, pelatihan dan simulasi evakuasi bencana akan kita perkuat lagi di lingkungan pondok pesantren," tegas Kalaksa BPBD Jawa Timur, Gatot. 

Sebagai informasi, atap bangunan asrama putri Ponpes Salafiah Syafi'iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani di Besuki, Kabupaten Situbondo, tiba-tiba ambruk saat santriwati beristirahat, Rabu (29/10) sekitar pukul 01.00 WIB. 

Insiden tersebut mengakibatkan satu santriwati meninggal dunia. Ia adalah Putri Hemilia, santriwati berusia 13 tahun asal Dusun Rawan, Desa Blimbing, Besuki. Sementara belasan santriwati dilaporkan mengalami luka-luka.

Berdasarkan informasi dari pengurus pondok pesantren, saat kejadian ada 19 santriwati yang sedang istirahat di dalam asrama. Dari jumlah tersebut, 1 santriwati meninggal dunia, 4 luka berat, dan 14 luka ringan.

Dalam kesempatan yang sama, saat meninjau langsung lokasi ambruknya atap bangunan asrama putri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Syekh Abdul Qodir Jaelani, BPBD Jatim juga menyerahkan bantuan.  

Di antaranya bahan material bangunan, berupa 50 sak semen dan 150 buah galvalum. Bantuan diserahkan secara simbolis oleh Kalaksa Gatot Soebroto kepada Pimpinan Ponpes Salafiyah Syafi'iyyah, KH Muhammad Hasan Ainul ilmi.

"Selain material bangunan, kami juga menyerahkan bantuan logistik, berupa, 15 buah terpal, 20 buah selimut, 10 paket family kit, 10 paket kidsware dan 20 paket sandang wanita," pungkas Gatot.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore