Logo JawaPos
Author avatar - Image
20 November 2025, 19.47 WIB

Pasca Erupsi Gunung Semeru, Akses Jembatan Gladak Perak Belum Dibuka Total

Kondisi di Jembatan Gladak Perak pasca Erupsi Gunung Semeru, Kamis (20/11). (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Kondisi di Jembatan Gladak Perak pasca Erupsi Gunung Semeru, Kamis (20/11). (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Sempat ditutup karena Erupsi Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang pada Rabu sore (19/11), akses Jembatan Besuk - Kobo'an atau yang dikenal dengan Jembatan Gladak Perak mulai dibuka secara terbatas. 

"Jembatan Gladak Perak belum dibuka sepenuhnya, masih khusus warga sekitar," tutur Kapolres Lumajang saat ini adalah AKBP Alex Sandy Siregar kepada JawaPos.com di lokasi, Kamis (20/11).

Dari pantauan di lokasi, tampak pepohonan hingga infrastruktur di sekitar Jembatan Gladak Perak, masih tertutup abu vulkanik tebal. Aliran lahar juga masih mengalir deras di jembatan penghubung Lumajang - Kabupaten Malang ini. 

"Saat ini masih proses pembersihan. Kami bekerja sama dengan BPBD Kabupaten Lumajang agar proses pembersihan bisa segera selesai. Kami dari polisi berupaya agar jalur bisa dibuka secepatnya," imbuhnya. 

AKBP Alex mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati saat melintasi wilayah terdampak Erupsi Gunung Semeru. Pengemudi yang hendak melintasi Jembatan Gladak Perak juga diminta untuk mengambil alternatif lain.

"Untuk warga Lumajang atau warga yang mau melintas di Jembatan Besuk Kobo'an ini dapat mengambil jalur alternatif terlebih dahulu, karena di sini debunya masih banyak," terang AKBP Alex. 

Kendala material erupsi yang masih menutupi area sekitar Jembatan Gladak Perak menjadi alasan mengapa polisi menutup akses. Selain itu, Alex menyebut banyak warga yang ingin datang dan mengabadikan momen erupsi.

"Banyak masyarakat yang malah ingin datang ke sini dan dan mengambil foto, sehingga itu menimbulkan bahaya pengguna jalan," tegasnya.

Sebagai informasi, data sementara pada Kamis (20/11) pukul 05.40 WIB, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Jatim, Satriyo Nurseno mengatakan jumlah pengungsi dari Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro sekitar 346 orang. 

Ratusan orang tersebut mengungsi di berbagai tempat. Di Kecamatan Pronojiwo, ada 4 tempat pengungsian, yakni Balai Desa Oro-Oro Ombo, SDN 04 Supiturang, Masjid Ar-Rahmah, Desa Oro-Oro Ombo, Masjid Nurul Jadid, Desa Supiturang.

Sementara di Kecamatan Candipuro, ada juga 4 tempat pengungsian, yakni Balai Desa Penanggal, SD Negeri 2 Sumberurip, Kantor Kecamatan Candipuro, Rumah Kepala Desa Sumbermujur. 

"Untuk korban luka bakar terkena awan panas ada 3 orang. Dua orang dievakuasi kemarin, pasangan suami istri asal Kediri dan pagi tadi satu orang, warga Dusun Umbulan Sumbersari," pungkas Satrio.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore