Logo JawaPos
Author avatar - Image
26 Desember 2025, 22.55 WIB

Kaleidoskop 2025: Erupsi Gunung Semeru, dari Letusan Dahsyat hingga Pemulihan Pasca Tanggap Darurat

Kondisi di dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pasca erupsi Gunung Semeru, Rabu (19/11) lalu. (Novia Herawati/ JawaPos.com) - Image

Kondisi di dusun Gumukmas, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang pasca erupsi Gunung Semeru, Rabu (19/11) lalu. (Novia Herawati/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Sepanjang 2025, Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur sudah berulang kali meletus, dengan letusan-letusan kecil yang menyemburkan abu.

Namun, pada Rabu (19/11) sore, warga di sekitar gunung tertinggi di pulau Jawa itu dibuat kaget bukan kepalang.

Semeru meletus dahsyat, menyemburkan abu dengan tinggi kolom mencapai 2.000 meter di atas puncak atau secara total 5.676 mdpl bila dihitung bersama gunungnya.

Awan panas berwarna kelabu dengan intensitas tebal ke tertiup angin ke arah utara dan barat laut. Erupsi terekam seismograf dengan amplitudo maksimum 40 mm dan durasi sekitar 16 menit 40 detik.

Pada pukul 17.22 WIB, gunung setinggi 3.676 MDPL tersebut memuntahkan Awan Panas Guguran (APG) hingga sejauh 12,8 kilometer dari puncak menuju Jembatan Gladak Perak/ Besuk Kobokan. 

Tak lama berselang, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan Status Gunung Semeru dari Level II (Waspada) ke Level III (Siaga), lalu dalam waktu singkat dinaikkan lagi ke Level tertinggi, yakni IV (Awas).

Dua Kecamatan Terdampak: Pronojiwo dan Candipuro

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang mencatat dua kecamatan terdampak erupsi Gunung Semeru, yakni Kecamatan Pronojiwo dan Kecamatan Candipuro. 

Dampak terparah terjadi di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo. Permukiman di kaki Gunung Semeru itu dilintasi aliran lahar. Puluhan rumah di kawasan itu luluh lantak diterjang material vulkanik. 

Pantauan JawaPos.com di Dusun Gemukmas, Desa Supiturang, Kamis (20/11), material vulkanik hampir meratakan rumah-rumah warga. Suasana semakin mencekam dengan puing-puing bangunan yang berserakan. 

"Rumah tinggal atap saja. Ini dari siang ke sini buat ambil barang-barang yang tidak hanyut. Kan kemarin turun hujan setelah erupsi turun. Alhamdulillah 3 sepeda motor saya masih selamat," ujar salah satu warga Supiturang, Sulami kepada JawaPos.com. 

BPBD Kabupaten Lumajang mencatat jumlah pengungsi Erupsi Gunung Semeru pada Kamis (20/11) mencapai 1.116 jiwa, yang tersebar di sejumlah tempat pengungsian di wilayah terdampak.

Di antaranya SD 04 Supiturang, Balai Desa Oro-oro Ombo, Masjid Ar-Rahman, SD Sumberurip 02, Rumah Kepala Desa Sumbernujur, dan Kantor Kecamatan Candipuro. 

Selain itu, bencana ini juga merusak 246 rumah warga, 80 unit bangunan lain, 3 unit tanggul, 6901 meter jalan dan drainase, 2 unit EWS, 8 unit CCTV Semeru, dan 64,94 hektare lahan pertanian. 

3 Warga Jadi Korban Erupsi Semeru: Alami Luka Bakar Serius

Sebanyak tiga orang dilaporkan mengalami luka bakar serius setelah terkena awan panas erupsi Gunung Semeru. Pertama adalah sepasang suami istri asal Kabupaten Kediri, yakni Haryono (48) dan Normawati (42). 

Mereka terkena Awan Panas Guguran (APG) saat melintas di wilayah Gladak Perak, Sumbermujur, Kabupaten Lumajang. Akibatnya, Haryono dan Normawati mengalami luka bakar grade 2 pada tangan dan muka. 

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore