Logo JawaPos
Author avatar - Image
29 Januari 2026, 05.51 WIB

Angka Stunting di Gresik Turun Signifikan dalam Tiga Bulan, ini Rahasianya

Ilustrasi stunting. (JawaPos)

JawaPos.com - Angka stunting di Kabupaten Gresik mengalami penurunan sebesar 26,79 persen, dalam tiga bulan pelaksanaan Program Pemantauan Gizi Anak Stunting (PEGAS). Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa intervensi gizi yang terencana, terpantau, dan berbasis kolaborasi mampu memberikan dampak nyata bagi perbaikan kualitas gizi anak.

Selain penurunan angka stunting, hasil evaluasi menunjukkan bahwa 64,28 persen balita peserta program mengalami perbaikan status gizi meski belum sepenuhnya keluar dari kondisi stunting. Sementara itu, 8,93 persen balita lainnya masih mendapatkan pendampingan lanjutan dari Dokter Spesialis Anak (DSA) untuk mencapai status gizi yang optimal.

Salah satu anggota tim DSA, dr. Wiweka Merbawani, Sp.A, menekankan pentingnya penguatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil dan orang tua sebagai fondasi pencegahan stunting sejak dini. "Penguatan KIE oleh kader dan tenaga Puskesmas kepada ibu hamil dan orang tua sangat penting, tidak hanya sebagai upaya pencegahan, tetapi juga untuk mendukung identifikasi dan penanganan stunting sejak dini," ujarnya, dikutip Rabu (28/1).

Ia menambahkan bahwa pelaksanaan Program PEGAS terbukti memberikan dampak yang sangat baik terhadap perbaikan status gizi balita stunting dan perlu dilanjutkan secara berkelanjutan. "Kedepan, program seperti ini diharapkan dapat terus dilanjutkan dan diperluas agar manfaatnya bisa dirasakan lebih banyak anak," lanjut dr. Wiweka.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik, dr. Anik Luthfiyah, M.Ked., menyampaikan apresiasinya atas capaian Program PEGAS yang dinilai berhasil mempercepat penurunan stunting di wilayahnya. "Capaian Program PEGAS di Kabupaten Gresik menjadi bukti bahwa intervensi gizi yang tepat sasaran, terpantau, dan dilakukan secara kolaboratif mampu memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi anak stunting," ujar dr. Anik.

Lebih lanjut, dr. Anik menegaskan pentingnya konsultasi langsung dengan DSA untuk memastikan intervensi gizi sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Ia juga menyampaikan bahwa pada tahun 2026, strategi penanganan stunting di Kabupaten Gresik akan semakin diarahkan pada upaya pencegahan melalui skrining dini.

"Keberhasilan program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara orang tua, tenaga kesehatan, pemerintah, dan sektor swasta memiliki peran penting dalam percepatan penanganan stunting. Harapannya, model ini tidak hanya berdampak di Kabupaten Gresik, tetapi juga dapat diadopsi di wilayah lain sebagai bagian dari upaya kolektif menurunkan angka stunting di Indonesia," pungkas dr. Anik.

Program PEGAS dilaksanakan secara bertahap di 18 Puskesmas di Kabupaten Gresik, dengan durasi pelaksanaan masing-masing selama tiga bulan dalam periode Agustus hingga Desember 2025.

Sasaran program adalah balita usia 0–57 bulan yang mengalami stunting tanpa kelainan bawaan maupun infeksi kronis, seperti tuberkulosis, serta telah melalui proses skrining di Puskesmas. Dari total 60 balita yang terdaftar pada awal program, sebanyak 56 balita berhasil mengikuti seluruh rangkaian intervensi hingga akhir.

Intervensi utama dalam Program PEGAS dilakukan melalui pemberian Pangan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK) secara gratis. Produk PKMK yang digunakan telah memenuhi standar PerBPOM No.24/2020 dan memiliki spesifikasi unggul, seperti densitas energi 1,01 kkal/ml dan Protein Energy Ratio (PER) sebesar 10,4 persen.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore