Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Februari 2026, 18.51 WIB

Dapat Banyak Pesan Usai Anak Bunuh Diri Karena Tak Mampu Beli Buku, Gubernur NTT: Tangan Saya Susah Jawabnya

ILUSTRASI: Bunuh diri - Image

ILUSTRASI: Bunuh diri

JawaPos.com - Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena mengaku mendapat banyak pesan dari menteri hingga anggota DPR yang mempertanyakan kasus meninggalnya YBS, 10, seorang anak asal Ngada yang bunuh diri lantaran miskin ekstrem. Dia mengaku kelu saat hendak menjawab.

"Mau jawab itu saya punya lidah juga kelu juga. Tangan saya susah juga jawabnya," ujarnya saat memberi sambutan dalam peresmian Fakultas Kedokteran Universitas Citra Bangsa (UCB) Kupang, Rabu (4/2) kemarin.

"Kita ini terusik kita punya hati ya. Ada seorang anak di NTT ini meninggal hanya karena tidak bisa beli buku ballpoint," sambung Melkiades.

Dia mengaku merasa terganggu ada kejadian anak melakukan aksi bunuh diri lantaran kondisi ekonomi di tengah banyak orang bisa duduk santai seperti dalam acara tersebut.

"Di tengah kita semua bisa duduk seperti ini, masih banyak di NTT ini warga negara Indonesia asal NTT yang mati ini asal Ngada, yang mati hanya karena dia miskin. Agak terganggu juga saya," tuturnya.

"Tapi menurut saya ini alarm untuk kita coba bahas serius untuk urus soal-soal begini," pungkas Melkiades.

Sebelumnya, duka mendalam menyelimuti warga Dusun Sawasina, Desa Nuruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur. Seorang siswa kelas IV sekolah dasar berinisial YBS, 10, ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri di sebuah pohon cengkeh.

Peristiwa pilu ini bermula dari permintaan sederhana yang tak mampu dipenuhi. Sehari sebelum kejadian, YBS sempat meminta ibunya untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Namun keterbatasan ekonomi membuat sang ibu tak dapat mengabulkan permintaan tersebut.

Camat Jerebuu, Bernardus H. Tage, menuturkan bahwa YBS dikenal sebagai anak pendiam, sopan, dan rajin belajar. Meski hidup dalam kondisi serba kekurangan, YBS jarang menunjukkan tanda-tanda kesedihan mendalam di hadapan warga sekitar.

“Menurut keterangan tetangga, dia anak yang baik dan rajin sekolah. Tidak ada tanda-tanda yang mencolok bahwa dia menyimpan beban berat,” ujar Bernardus seperti dikutip dari Radar Pati, Rabu (4/2).

Ayah YBS diketahui telah meninggal dunia sebelum ia lahir. Selama ini, YBS tinggal bersama neneknya yang telah berusia sekitar 80 tahun. Sementara sang ibu tinggal di kampung lain bersama lima anak lainnya.

Pada Kamis pagi, warga sempat melihat YBS duduk di depan rumah neneknya. Padahal pagi itu ia seharusnya berangkat ke sekolah. Beberapa jam kemudian, tubuh YBS ditemukan oleh warga yang tengah menggembalakan kerbau di sekitar lokasi.

Sang ibu, MGT, 47, mengungkapkan bahwa YBS menginap di rumahnya pada malam sebelum kejadian. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WITA, YBS diantar menggunakan ojek menuju rumah neneknya.

“Saya sempat berpesan supaya rajin sekolah dan mengerti kondisi keluarga yang sedang sulit,” ujar sang ibu dengan suara bergetar.

Tragedi ini semakin mengiris hati setelah aparat Polres Ngada menemukan secarik kertas berisi surat wasiat tulisan tangan YBS menggunakan bahasa daerah setempat. Surat tersebut merupakan pesan perpisahan untuk sang ibu dan keluarga.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore