Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Desember 2025, 13.31 WIB

Gakoptindo Ingatkan Ancaman Inflasi Kedelai, Segmentasi Lokal–Impor Jadi Solusi

Sejumlah pekerja membungkus tahu berbahan kedelai impor di Sentra Industri Tahu LS, Candisari, Semarang, Jawa Tengah. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang) - Image

Sejumlah pekerja membungkus tahu berbahan kedelai impor di Sentra Industri Tahu LS, Candisari, Semarang, Jawa Tengah. (Nur Chamim/Jawa Pos Radar Semarang)

JawaPos.com - Perkembangan industri tempe dan tahu nasional saat ini menunjukkan arah yang menggembirakan. Meski demikian, di balik tren pertumbuhan tersebut terdapat sejumlah tantangan krusial yang perlu dikawal, mulai dari mutu produksi, efisiensi biaya, hingga kesinambungan pasokan bahan baku kedelai.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Wibowo Nurcahyo, saat ditemui awak media di Jakarta.

“Untuk 2026, Gakoptindo menyusun beberapa program strategis, di antaranya mempersiapkan pabrik tempe tahu yang bersih, higienis, layak, dan hemat energi,” ujar Wibowo dalam keterangannya.

Wibowo menjelaskan bahwa salah satu beban terbesar yang dihadapi para perajin tempe dan tahu adalah tingginya biaya produksi, terutama yang bersumber dari kebutuhan energi. 

Menyikapi hal tersebut, Gakoptindo telah menyiapkan inovasi berupa mesin produksi baru yang mampu menekan konsumsi energi hingga 52 persen. Rencananya, mesin tersebut akan diperkenalkan kepada publik pada Mei 2026 di Yogyakarta.

Penerapan teknologi hemat energi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas produksi perajin tanpa harus mendorong kenaikan harga jual di tingkat konsumen. 

Selain pembenahan fasilitas produksi, Gakoptindo juga menggulirkan program pengembangan wirausaha baru berbasis produk olahan turunan tempe dan tahu. Menurut Wibowo, isu regenerasi perajin menjadi tantangan serius lantaran banyak generasi muda yang enggan melanjutkan usaha keluarga, padahal produk turunan kedelai memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi.

“Kami ingin menciptakan ekosistem baru, minimal 100 wirausaha baru yang akan dilatih dan dipantau melalui program inkubator,” katanya.

Program strategis ketiga yang disiapkan Gakoptindo berkaitan dengan dukungan pasokan tempe dan tahu untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Dalam hal ini, Gakoptindo akan menyiapkan fasilitas produksi yang memenuhi standar kelayakan dan kualitas agar dapat masuk ke dalam rantai pasok MBG. Sejalan dengan itu, agenda keempat difokuskan pada pemanfaatan kedelai lokal sebagai bahan baku MBG, seiring dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo.

“Kedelai lokal itu non-GMO. Oleh karenanya, bahan baku tempe dan tahu untuk MBG harus yang terbaik. Saat ini pilihannya adalah kedelai lokal,” ujar Wibowo.

Meski demikian, Wibowo menegaskan bahwa kapasitas produksi kedelai dalam negeri saat ini masih jauh dari mencukupi. Kebutuhan kedelai nasional per tahun mencapai sekitar 2,9 juta ton, sementara kontribusi kedelai lokal belum menyentuh angka 100 ribu ton.

“Dengan kondisi seperti ini, tidak mungkin kita menutup keran impor. Itu hal yang tidak realistis,” tegasnya.

Di tengah dorongan pemerintah untuk mencapai swasembada pangan, termasuk komoditas kedelai, Indonesia masih sangat bergantung pada kedelai impor. Impor dinilai tetap diperlukan untuk menjaga kestabilan harga, mengendalikan laju inflasi, serta memastikan ketersediaan bahan pangan berbasis kedelai di tengah peningkatan permintaan domestik.

Wibowo mengungkapkan bahwa di sejumlah wilayah mulai muncul indikasi kenaikan harga tahu dan tempe, disertai kendala pasokan bahan baku. Ia mengingatkan bahwa jika kondisi ini tidak diantisipasi sejak dini, sementara program MBG terus berjalan hingga 2045, risiko kekurangan kedelai dan tekanan inflasi dapat semakin besar.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore