Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 Oktober 2025, 02.15 WIB

Tak Sebatas Likuiditas, Purbaya Jelaskan Multiplier Effect dari Injeksi Rp 200 Triliun

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam APBNKiTA di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Selasa (14/10). (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam APBNKiTA di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Selasa (14/10). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Pemerintah terus mendorong pemulihan ekonomi nasional melalui berbagai kebijakan fiskal strategis. Salah satunya, dengan menempatkan dana sebesar Rp 200 triliun di bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Agar menjaga likuiditas sistem keuangan dan mendorong pertumbuhan kredit.

"Pemerintah menempatkan Rp 200 triliun kas negara di Himbara untuk memastikan likuiditas ekonomi tetap terjaga. Dengan tingkat bunga rendah, langkah ini mampu mendorong pertumbuhan kredit yang lebih agresif," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam APBNKiTA di Gedung Juanda, Kementerian Keuangan, Selasa (14/10).

Peningkatan likuiditas tercermin dari pertumbuhan uang primer (base money) atau M0 Bank Indonesia (BI). Pada September 2025, M0 tumbuh 18,6 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 2.152,4 triliun. Jauh lebih tinggi dibanding Agustus 2025 yang hanya tumbuh 7,3 persen YoY.

"Itu menunjukkan uang di sistem perekonomian memang bertambah dengan signifikan. Jadi harusnya ke depan ekonominya akan tumbuh juga," jelasnya.

Hingga akhir September 2025, dana pemerintah yang telah disalurkan kembali ke masyarakat dalam bentuk kredit produktif mencapai Rp 112,4 triliun. Artinya, lebih dari separuh dana yang ditempatkan pemerintah di sistem perbankan sudah dimanfaatkan untuk menopang konsumsi, investasi, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Purbaya, inisiatif ini bukan hanya soal likuiditas. Tapi juga mencakup penciptaan multiplier effect, menurunkan cost of fund, mendorong pembiayaan sektor riil, dan menjaga momentum pemulihan ekonomi.

"Likuiditas sistem keuangan nasional tetap terjaga dalam kondisinya ample. Ini ample betulan di sistem, bukan di tempat lain," tegas mantan ketua dewan komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) itu.

Efeknya mulai terlihat. Di pasar uang, suku bunga Indonesia Overnight Index Average (IndONIA) turun dari 4,59 persen ke 4,14 persen. Sementara Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) menurun dari 5,17 persen ke 4,86 persen. "Jadi suku bunga pinjaman juga akan turun nanti pelan-pelan," imbuhnya.

Pemerintah mulai menginjeksi dana tersebut sejak 13 September 2025. Dampaknya akan mulai terasa secara penuh pada Oktober hingga Desember 2025. Dengan dukungan kebijakan ini, Purbaya memperkirakan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2025 bisa mencapai 5,67 persen, sedikit lebih tinggi dari proyeksi dasar 5,5 persen.

"Dengan berbagai stimulus tambahan itu bisa 5,67 persen atau lebih sedikit di kuartal IV 2025. Harusnya arah ekonomi akan lebih bagus. Dan kalau itu terjadi momentum pertumbuhan itu akan kita jaga terus ke depan. Jadi kita sudah bergerak ke arah yang lebih bagus dibanding sebelumnya," beber Purbaya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perbendaharaan Kementerian Keuangan Astera Primanto Bhakti menjelaskan, skema penempatan dana dari pemerintah ke bank Himbara melalui pemindahan rekening atau transfer dari rekening Bendahara Umum Negara (BUN) yang ada di BI kepada rekening bank di BI. Jadi tidak ada mekanisme reimburse yang dilakukan oleh bank.

"Dan ini bisa berjalan secara cepat. Saat ini capaiannya sudah lebih dari 50 persen sudah dicairkan untuk memberikan kredit di sektor riil," jelasnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore