Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk bisa merilis data pertumbuhan ekonomi sebulan sekali. (YouTube Bank Indonesia)
JawaPos.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian meminta Badan Pusat Statistik (BPS) untuk bisa merilis data pertumbuhan ekonomi sebulan sekali, dari sebelumnya per kuartal atau tiga bulan sekali.
Permintaan itu disampaikan Tito dalam acara Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (Fekdi). Menurutnya hal itu sangat mungkin untuk dilakukan, pasalnya untuk inflasi sendiri sudah bisa diumumkan per minggu bagi setiap daerah di tanah air.
“Sekarang masuk kami ke pertumbuhan ekonomi. Ya tadinya per 3 bulanan saya minta kepada BPS, sama inflasi tadinya per sebulanan,” ujar Tito yang dipantau secara daring, Jumat (31/10).
Ia menjelaskan, dinamika ekonomi di daerah sangat cepat berubah. Karena itu, pemerintah pusat memerlukan data yang lebih sering dan real-time agar bisa mengambil kebijakan yang lebih tepat sasaran.
“Saya minta, Bu (Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti) entah caranya gimana, Bu ini, carikan rumusnya untuk tahu, daerah per daerah, per minggu. Karena ini sangat dinamis, statistik ini ya, inflasi,” jelasnya.
Lebih lanjut Tito membeberkan bahwa BPS telah berhasil mengembangkan metode penghitungan inflasi per minggu dalam dua tahun terakhir. Kini, ia berharap pendekatan serupa juga bisa diterapkan untuk memantau pertumbuhan ekonomi secara bulanan.
“Nah ini, pertumbuhan ekonomi biasanya dirilis per 3 bulan. Saya minta, ada indikator yang silakan cari rumusnya, bisa paham sebulan sekali,” bebernya.
Tito juga menyebut, dengan data ekonomi yang diperbarui setiap bulan, pemerintah daerah bisa segera mengetahui wilayah mana yang ekonominya tumbuh cepat dan mana yang mengalami kontraksi.
“Nah jadi kita sekarang sudah keluar rumusnya Pak. Per sebulan sekali. Kita akan bisa petakan, dan saya bisa nyampaikan ke daerah,” ujarnya.
Dengan begitu, ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Sehingga sejumlah daerah yang masih rendah pertumbuhan ekonominya bisa turut digenjot.
“Karena daerah-daerah perlu diajak, data nasional adalah agregat dari semua daerah. Jadi kita bisa tahu daerah yang pertumbuhannya tinggi, yang minus kita genjot, kira-kira gitu dan cari penyebabnya, persis rumusnya inflasi,” pungkas Tito.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
