
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan pertumbuhan kredit di Perbankan RI, Jumat (7/11/2025) (YouTube OJK)
JawaPos.com - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pertumbuhan kinerja kredit di Perbankan Republik Indonesia (RI) tembus sebesar Rp8.162,8 triliun per September 2025.
Angka tersebut tercatat naik sebesar 7,70 persen secara tahunan atau year on year (yoy) dibandingkan dengan kinerja kredit pada bulan sebelumnya, yakni Agustus 2025 yang tercatat sebesar 7,56 persen.
"Kinerja intermediasi perbankan stabil dengan profil risiko yang terjaga, dan aktivitas perbankan juga tetap optimal untuk memberikan layanan keuangan bagi masyarakat. September 2025, kredit tumbuh sebesar 7,70 persen year-on-year. Agustus sebelumnya sebesar 7,56 persen menjadi Rp8.162,8 triliun," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers daring di Jakarta, Jumat (7/11).
Lebih rinci, dia membeberkan bahwa berdasarkan jenis penggunaan, kredit investasi tercatat tumbuh sebesar 15,18 persen.
Diikuti oleh kredit konsumsi sebesar 7,4 persen. Sedangkan kredit modal kerja tumbuh sebesar 3,37 persen secara tahunan.
Dari kategori debitur, Dian Ediana merinci bahwa kredit korporasi tumbuh sebesar 11,53 persen, sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 0,23 persen.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross sebesar 2,24 persen dibandingkan dengan Agustus sebelumnya sebesar 2,20 persen, dan NPL net relatif stabil sebesar 0,87 persen, sama seperti bulan sebelumnya.
"Sementara itu, loan at risk (LAR) dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 9,52 persen, Agustus sebelumnya 9,73 persen. Ketahanan perbankan juga tetap kuat, tercermin dari permodalan atau capital adequacy ratio (CAR) yang berada sebesar 26,15 persen, di Agustus sebelumnya sebesar 26,03 persen, menjadi bantalan mitigasi risiko yang kuat untuk mengantisipasi kondisi ketidakpastian global," bebernya.
Dari sisi lain, dana pihak ketiga atau DPK tercatat naik menjadi Rp 9.695,4 triliun, atau tumbuh sebesar 8,81 persen secara tahunan dibandingkan dengan Agustus yang tercatat sebesar 8,51 persen.
Rigiditas industri perbankan pada September 2025 juga dianggap memadai, dengan rasio alat likuid non-core deposit (ALNCD) dan alat likuid dana pihak ketiga (ALDPK) masing-masing sebesar 130,47 persen.
Sedangkan pada Agustus sebelumnya sebesar 120,25 persen dan 29,30 persen, masih di atas threshold masing-masing 50 persen dan 10 persen.
Di sisi lain, liquidity coverage ratio (LCR) berada di level 205,94 persen. Adapun penurunan policy rate juga diikuti oleh penurunan suku bunga perbankan.
"Dibandingkan tahun sebelumnya, rata-rata suku bunga kredit rupiah tercatat turun 50 basis point untuk kredit investasi, dan 41 basis point untuk kredit modal kerja. Dari sisi penghimpunan dana, suku bunga tertimbang DPK rupiah juga terpantau menurun dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 11 basis point," jelas Dian Ediana.
"Sebelumnya tercatat sebesar 2,78 persen di bulan September dan 2,89 persen di bulan Agustus, yang didorong oleh penurunan suku bunga deposito rupiah. Di September tercatat 4,96 persen, sedangkan pada bulan Agustus sebelumnya tercatat 5,24 persen," pungkasnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
