Logo JawaPos
Author avatar - Image
11 November 2025, 22.03 WIB

Redenominasi Mata Uang Rupiah Disebut Bisa Picu Inflasi, Ini Kata Ekonom

Ilustrasi mata uang Rupiah. Kemenkeu menyiapkan RUU tentang redenominasi uang Rupiah yang ditargetkan rampung pada 2027. (dok. JawaPos.com) - Image

Ilustrasi mata uang Rupiah. Kemenkeu menyiapkan RUU tentang redenominasi uang Rupiah yang ditargetkan rampung pada 2027. (dok. JawaPos.com)

JawaPos.com - Keinginan pemerintah untuk meredominasi mata uang rupiah mendapat tanggapan dari sejumlah pihak. Bahkan, banyak yang khawatir bahwa redenominasi ini akan berujung pada inflasi.

Menanggapi hal ini, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menekankan bahwa secara prinsip, redenominasi tak otomatis mengerek inflasi.

“Secara prinsip, redenominasi tidak otomatis mengerek inflasi. Karena tidak menambah permintaan agregat maupun biaya produksi, yang berubah hanya satuan hitung. Risiko inflasi muncul jika terjadi pembulatan harga ke atas secara luas atau jika pelaku usaha memanfaatkan momentum untuk menaikkan margin,” kata Pardede kepada JawaPos.com.

Meski begitu, dia menyarankan agar rancangan kebijakan memiliki tiga pagar pengaman. Yakni kewajiban menampilkan harga ganda selama masa transisi.

Agar konsumen bisa membandingkan langsung. Kedua adalah aturan pembulatan simetris yang jelas agar tidak bias ke atas, dan sanksi bagi pelanggaran. 

Menurut dia, pengalaman internasional menunjukkan bahwa redenominasi akan berhasil jika dilakukan saat stabilitas makroekonomi dan sosial politik terjaga, serta didukung oleh kampanye publik dan landasan hukum yang kuat. Dengan demikian, dampak inflasinya biasanya bersifat kecil dan hanya sementara.

“Dengan pagar pengaman tersebut, risiko kenaikan inflasi jangka menengah dapat ditekan, dan tekanan yang muncul lebih bersifat satu kali selama adaptasi, bukan dorongan yang berulang,” jelasnya.

Sementara itu, pendapat berbeda datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies). Dia menekankan bahwa langkah redenominasi bisa mengerek ke arah inflasi.

“Sebagai contoh, efek redenominasi barang dari Rp 9.000 tidak akan jadi Rp 9, tapi jadi Rp 10. Penjual akan cenderung menaikkan harga pembulatan ke nominal paling atas. Dalam ekonomi disebut dengan opportunistic rounding, pembulatan ke atas agar penjual bisa pertahankan marjin saat redenominasi,” jelas dia.

“Imbasnya, Inflasi yang terlalu tinggi akibat redenominasi bisa melemahkan daya beli masyarakat. Padahal konsumsi rumah tangga merupakan motor utama pertumbuhan,” tukas Bhima.

Editor: Bayu Putra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore