
Ilustrasi mata uang Rupiah. Kemenkeu menyiapkan RUU tentang redenominasi uang Rupiah yang ditargetkan rampung pada 2027. (dok. JawaPos.com)
JawaPos.com - Keinginan pemerintah untuk meredominasi mata uang rupiah mendapat tanggapan dari sejumlah pihak. Bahkan, banyak yang khawatir bahwa redenominasi ini akan berujung pada inflasi.
Menanggapi hal ini, Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menekankan bahwa secara prinsip, redenominasi tak otomatis mengerek inflasi.
“Secara prinsip, redenominasi tidak otomatis mengerek inflasi. Karena tidak menambah permintaan agregat maupun biaya produksi, yang berubah hanya satuan hitung. Risiko inflasi muncul jika terjadi pembulatan harga ke atas secara luas atau jika pelaku usaha memanfaatkan momentum untuk menaikkan margin,” kata Pardede kepada JawaPos.com.
Meski begitu, dia menyarankan agar rancangan kebijakan memiliki tiga pagar pengaman. Yakni kewajiban menampilkan harga ganda selama masa transisi.
Agar konsumen bisa membandingkan langsung. Kedua adalah aturan pembulatan simetris yang jelas agar tidak bias ke atas, dan sanksi bagi pelanggaran.
Menurut dia, pengalaman internasional menunjukkan bahwa redenominasi akan berhasil jika dilakukan saat stabilitas makroekonomi dan sosial politik terjaga, serta didukung oleh kampanye publik dan landasan hukum yang kuat. Dengan demikian, dampak inflasinya biasanya bersifat kecil dan hanya sementara.
“Dengan pagar pengaman tersebut, risiko kenaikan inflasi jangka menengah dapat ditekan, dan tekanan yang muncul lebih bersifat satu kali selama adaptasi, bukan dorongan yang berulang,” jelasnya.
Sementara itu, pendapat berbeda datang dari Bhima Yudhistira, Direktur Celios (Center of Economic and Law Studies). Dia menekankan bahwa langkah redenominasi bisa mengerek ke arah inflasi.
“Sebagai contoh, efek redenominasi barang dari Rp 9.000 tidak akan jadi Rp 9, tapi jadi Rp 10. Penjual akan cenderung menaikkan harga pembulatan ke nominal paling atas. Dalam ekonomi disebut dengan opportunistic rounding, pembulatan ke atas agar penjual bisa pertahankan marjin saat redenominasi,” jelas dia.
“Imbasnya, Inflasi yang terlalu tinggi akibat redenominasi bisa melemahkan daya beli masyarakat. Padahal konsumsi rumah tangga merupakan motor utama pertumbuhan,” tukas Bhima.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
