Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Oktober 2025, 01.53 WIB

Eropa dan Amerika Pakai Etanol untuk BBM, Disebut Bisa Bantu Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

TURUN TEMURUN: Pekerja di pabrik pembuatan etanol dari tetes tebu di Desa Bekonang, Sukoharjo (18/11). (HENDRA EKA/JAWA POS) - Image

TURUN TEMURUN: Pekerja di pabrik pembuatan etanol dari tetes tebu di Desa Bekonang, Sukoharjo (18/11). (HENDRA EKA/JAWA POS)

JawaPos.com - Pemakaian etanol untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dipastikan praktik biasa. Di negara-negara luar juga menerapkan hal yang sama, bahkan kadarnya lebih tinggi dari Indonesia.
 
Seperti dikutip dari Energy Information Administration (EIA), Amerika Serikat telah menggunakan campuran etanol dalam berbagai takaran. Seperti E10 (etanol 10 persen), E15 (etanol 15 persen), dan E85 (etanol 85 persen). E10—yang mengandung 10 persen etanol—kini menjadi standar nasional karena terbukti mampu menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa mengorbankan performa mesin secara signifikan. 
 
Tren serupa juga terlihat di Eropa dan Asia. Pemerintah dan industri energi berlomba memperluas penggunaan bioetanol sebagai bagian dari komitmen global mengurangi emisi, termasuk Indonesia yang baru menggunakan etanol 3,5 persen dalam kandungan BBM.
 
Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Tri Yus Widjajanto mengatakan, penggunaan etanol aman untuk kendaraan. Dengan kadar 3,5 persen, hanya mempengaruhi 1 persen performa kendaraan.
 
"Artinya daya mesin hanya berkurang sekitar 1 persen, dan itu tidak akan terasa dan tidak berpengaruh ke konsumsi bahan bakar maupun tarikan (performa) kendaraan,” kata Tri, Rabu (8/10).
 
 
Selain itu, Uni Eropa pun tengah mengkaji penerapan bensin E20 atau campuran 20 persen etanol. Langkah ini dinilai mampu menurunkan emisi karbon hingga 6 persen dibandingkan E10. Seperti dikutip dari EU Research & Innovation, kebijakan ini masih dalam tahap uji karena memerlukan kesiapan teknologi kendaraan dan pasokan bioetanol yang memadai. 
 
Sementara itu, Argus Media mencatat peningkatan tajam konsumsi bensin E10 di Jerman berkat harga yang lebih kompetitif. Selain itu, penerimaan masyarakat semakin baik terhadap bahan bakar ramah lingkungan.
 
India menjadi contoh negara berkembang yang agresif dalam mendorong program biofuel nasional. Seperti dikutip dari Press Information Bureau (PIB) Pemerintah India, negara tersebut menargetkan pencampuran 20 persen etanol dalam bensin (E20) pada tahun 2025 untuk menekan impor minyak mentah dan memberikan nilai tambah bagi petani tebu serta industri biomassa. 
 
Lembaga energi internasional juga mencatat tren serupa. Laporan International Energy Agency (IEA) yang berjudul “Renewables 2023” menyebut, permintaan biofuel meningkat pesat di negara berkembang seperti Brasil, Indonesia, dan India. IEA memperkirakan konsumsi etanol global akan terus tumbuh seiring upaya dekarbonisasi transportasi yang kian masif.
 
Senada dengan itu, Dosen Jurusan Rekayasa Minyak dan Gas Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Muhammad Rifqi Dwi Septian mengatakan, penggunaan etanol sangat baik untuk dikembangkan di tanah air. 
 
“Kalau dikaji lebih lanjut dan terus ditindaklanjuti, penggunaan etanol sangat potensial. Selain lebih ramah lingkungan, juga bisa memperkuat ketahanan energi nasional,” ucapnya.
 
Rifqi juga menepis anggapan bahwa etanol dapat menyebabkan karat atau kerusakan mesin. “Kalau produksinya sesuai standar dan sistem penyimpanannya baik, risikonya sangat kecil. Apalagi kendaraan modern sekarang sudah kompatibel dengan bahan bakar campuran etanol,” tegasnya.
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore