Logo JawaPos
Author avatar - Image
02 November 2025, 22.21 WIB

Indonesia Pimpin Kerja Sama Energi Jepang, Namun Masih Terjebak Energi Fosil

MENUNGGU JANJI PEMBENAHAN: Cerobong asap PLTU Ombilin mengeluarkan debu saat proses produksi.Foto: Imam Husein/Jawa Pos - Image

MENUNGGU JANJI PEMBENAHAN: Cerobong asap PLTU Ombilin mengeluarkan debu saat proses produksi.Foto: Imam Husein/Jawa Pos

JawaPos.com-Indonesia menjadi negara dengan jumlah kerja sama paling banyak dalam inisiatif energi Jepang-Asia Zero Emission Community (AZEC). Yakni mencapai 125 kesepakatan termasuk 15 perjanjian baru yang diteken pada Pertemuan AZEC ke-3 di Malaysia pekan ini. 

Meski AZEC digadang sebagai upaya menuju nol emisi, sebagian besar kerja sama justru masih menitikberatkan pada proyek-proyek energi berbasis fosil.

Laporan terbaru dari Zero Carbon Analytics (ZCA) mengungkap bahwa dari 49 perjanjian baru yang ditandatangani, sekitar 31 persen atau 15 proyek masih melibatkan teknologi yang bersumber dari bahan bakar fosil. Seperti gas, amonia, hidrogen, dan carbon capture, utilization and storage (CCUS). 

Sementara itu, proyek yang murni berfokus pada energi terbarukan hanya mencakup 22 persen atau 11 kesepakatan. Indonesia berkontribusi dengan 15 kesepakatan baru dalam gelombang terbaru tersebut.

Sejak pertama kali diluncurkan pada 2023, AZEC telah menghasilkan total 316 kesepakatan, dengan hampir sepertiganya (97 perjanjian) masih berkaitan dengan energi fosil. Jumlah proyek yang mengandalkan energi fosil dan yang berorientasi pada energi bersih pun masih relatif berimbang. 

Dari berbagai teknologi yang tercantum, biomassa dan biofuel paling sering disebut. Tapi empat dari sepuluh teknologi utama tetap berakar pada sumber energi fosil seperti CCUS, amonia, co-firing amonia dengan batu bara, dan hidrogen.

Kondisi tersebut dinilai bisa memperlambat peralihan menuju energi bersih di kawasan Asia Tenggara. Hal ini cukup mengkhawatirkan mengingat ASEAN baru saja menargetkan peningkatan porsi listrik berbasis energi terbarukan menjadi 45 persen dari total kapasitas dalam lima tahun ke depan.

“Namun, dukungan terus-menerus terhadap teknologi gas, amonia, hidrogen, dan CCUS melalui AZEC dapat menghambat pencapaian target tersebut,” kata Amy Kong, Peneliti Transisi Energi di ZCA dalam keterangannya.

Lebih jauh, dominasi teknologi CCS dan gas dalam berbagai kesepakatan juga dinilai bisa memperpanjang ketergantungan kawasan Asia terhadap energi fosil. 

“Padahal, gas merupakan kontributor utama peningkatan suhu bumi. Kemudian, CCS bahkan dapat memicu tambahan emisi hingga 25 miliar ton gas rumah kaca di Asia pada 2050,” ujar Yu Sun Chin, Peneliti Regional Asia ZCA menambahkan.

Dalam total kesepakatan sejak 2023, Indonesia tercatat sebagai mitra terbesar Jepang dengan 125 perjanjian. Posisi berikutnya ditempati Thailand dengan 43 kesepakatan, disusul Malaysia dan Vietnam yang masing-masing menandatangani 36 kesepakatan.

Hikmat Soeriatanuwijaya, Asia Partnership and Outreach Officer di Oil Change International, menilai bahwa AZEC tidak benar-benar mendorong dekarbonisasi, melainkan menjadi bentuk lain dari kolonialisme energi.

Menurut dia, dengan mendorong proyek gas, hidrogen, dan co-firing amonia, Jepang mengekspor ketergantungannya pada energi fosil dan mengunci wilayah Asia Tenggara untuk terus bergantung pada energi kotor, baik secara teknologi maupun finansial. 

“Alih-alih mendorong ASEAN memimpin pengembangan energi terbarukan, AZEC justru berisiko menjebak kita di dekade infrastruktur, utang, dan ketergantungan energi fosil, yang lebih menguntungkan industri Jepang daripada masyarakat maupun planet kita,” tegas Hikmat.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore