Logo JawaPos
Author avatar - Image
07 November 2025, 06.50 WIB

RU VI Balongan, Kilang Pertamina dengan Kompleksitas Tertinggi Pemasok Utama Kebutuhan BBM DKI dan Jabar

Petugas Pertamina memeriksa fasilitas produksi Crude Destillation Unit (CDU) Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (8/10/2024). (Miftahul Hayat/Jawa Pos) - Image

Petugas Pertamina memeriksa fasilitas produksi Crude Destillation Unit (CDU) Kilang Pertamina Internasional (KPI) Unit Balongan di Indramayu, Jawa Barat, Selasa (8/10/2024). (Miftahul Hayat/Jawa Pos)

JawaPos.com – Mobilitas warga Jakarta dan wilayah aglomerasinya membutuhkan pasokan energi yang affordable dan sustainable. Setiap tahun, jutaan liter bahan bakar minyak (BBM) 'diminum' tangki-tangki kendaraan untuk menggerakkan roda ekonomi di ibu kota dan wilayah satelit.

Pernahkan terpikir, dari mana produk BBM yang kita konsumsi tersebut? Apakah langsung dari luar negeri – seperti gawai yang Anda gunakan – karena katanya Indonesia sudah menjadi net importer? Tentu tidak, ya.

Produk BBM yang didistribusikan di ibu kota merupakan hasil pengolahan Kilang Balongan atau Refinery Unit (RU) VI Balongan yang dikelola oleh PT Kilang Pertamina Internasional, sebagai Subholding Refining & Petrochemical PT Pertamina (Persero). Kilang Balongan mulai beroperasi pada 1994 dengan kapasitas pengolahan awal 125.000 barel per hari (bph).

Namun sejak 2022, kapasitas pengolahan RU VI Balongan naik menjadi 150.000 bph, melalui pelaksanaan proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Phase-I di unit Crude Distillation Unit (CDU). Sejak pertama beroperasi, RU VI Balongan sudah didesain dengan Nelson Complexity Index (NCI) 11,9 dan sulfur limit 0,26 persen.

Manager Engineering & Development RU VI Balongan Hadi Siswanto dalam media visit yang diikuti JawaPos.com, beberapa waktu lalu menerangkan, semakin tinggi NCI berarti kilang semakin profitable. "Ini seluruh crude yang diolah, hampir 92 persen itu menjadi produk. Dibanding dengan RU yang lain dia produknya jauh lebih tinggi di RU VI Balongan," kata Hadi.

Manager Engineering & Development RU VI Balongan Hadi Siswanto memberikan penjelasan pada rombongan media visit PT Kilang Pertamina Internasional ke RU VI Balongan. (dok. KPI)

Sebagai perbandingan, RU III Plaju yang merupakan kilang tertua KPI, beroperasi mulai 1935 memiliki kapasitas 118.000 bph dengan NCI 3,1 dan sulfur limit 0,2 persen. Selanjutnya RU II Dumai yang beroperasi mulai 1972 memiliki kapasitas 170.000 bph dengan NCI 7,3 dan sulfur limit 0,2 persen.

RU IV Cilacap yang beroperasi mulai 1976 memiliki kapasitas 348.000 bph, dengan NCI 7,4 dan sulfur limit 2 persen (CDU 1) serta 0,29 persen (CDU II). Adapun RU V Balikpapan yang beroperasi mulai 1984 memiliki kapasitas 260.000 bph dengan NCI 3,4 dan sulfur limit 0,2 persen.

"Di sini RU IV Cilacap kapasitas yang paling besar saat ini, nantinya akan digeser kapasitasnya oleh Balikpapan ketika RU V balikpapan RDMP-nya selesai menjadi 360.000 bph. Dan NCI-nya akan naik menjadi 7,5-7,6, karena kompleksitasnya akan naik," lanjut Hadi. Sementara RU VII Kasim yang beroperasi mulai 1995 memiliki kapasitas 10.000 bph dengan NCI 2,4 dan sulfur limit 0,63 persen.

Jenis crude yang bisa diolah di Kilang RU VI Balongan. (Estu Suryo/JawaPos.com)

Produk BBM 

Hadi menjelaskan, setiap kilang memiliki spesifikasi desain dan spesifikasi crude (minyak mentah) yang bisa diolah. Tidak semua jenis crude bisa diolah di sebuah kilang, tergantung spesifikasinya. Hadi menambahkan, crude yang masuk ke kilang harus memenuhi sejumlah paramater Crude Acceptance Matrix (CAM), misalnya kandungan Sulfurnya, Tan, Asphaltene, Salt, serta Yield Residu.

Di RU VI Balongan, dari 20,4 juta barel refinery intake, crude yang berasal dari domestik sebanyak 15,1 juta barel, dan sisanya impor. Adapun jenis crude domestik yang bisa diolah di Kilang Balongan antara lain Duri, SLC (Sumatera Light Crude), Jatibarang Crude Oil, Kresna BUCO, Cinta, dan Klamono. Sedangkan jenis crude impor yang bisa diolah di RU VI Balongan antara lain Penara, Dalia, Escalante Cabinda, Etame, Rabi Blend Ostra, Aseng, dan Rabi Light.

Dari crude yang diolah di RU VI Balongan, menghasilkan berbagai jenis produk terbagi menjadi 52 persen bahan bakar khusus (BBK), 26 persen BBM, 6 persen LPG, 6 persen propylene, 1 persn avtur, dan 9 persen lain-lain. "Kapasitas (Balongan) saat ini 150.000 barel, dimana kapasitas ini kurang lebih 14,2 persen kapasitas nasional," terang Hadi.

"Tetapi yang menjadi catatan penting bahwa RU VI Balongan ini 100 persen untuk menyokong kebutuhan BBM di ibu kota Jakarta dan sekitarnya, termasuk Jawa Barat bagian utara, Bekasi, Depok, Karawang. Jadi, kilang ini dibangun untuk men-support kebutuhan BBM di ibu kota, Jakarta," lanjut Hadi.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore