Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 November 2025, 03.07 WIB

Olah 320 Juta Barel Minyak Per Tahun, KPI Gencar Lakukan Modernisasi Kilang

Ilustrasi aktivitas pengolahan di Kilang Pertamina. (Istimewa) - Image

Ilustrasi aktivitas pengolahan di Kilang Pertamina. (Istimewa)

JawaPos.com-PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) memasuki usia operasional ke delapan tahun. Masuk usia hampir satu dekade, KPI mengklaim gencar melakukan modernisasi kilang untuk ketahanan energi nasional.

Sejak dibentuk pada 2017 dan ditetapkan sebagai Subholding Refining & Petrochemical pada 2020, KPI mengelola enam kilang strategis Pertamina yang menyuplai sebagian besar kebutuhan energi dalam negeri.

Dalam periode delapan tahun, KPI menjalankan sejumlah proyek besar. Mulai dari pengembangan Blue Sky dan Green Refinery Cilacap, revitalisasi unit pengolah residu (RCC) di Balongan, proyek Ultra Low Sulfur Diesel (ULSD), peningkatan kapasitas CDU di Balikpapan, hingga pembangunan infrastruktur penunjang seperti pipa, tangki, dan relokasi fasilitas SPM.

Namun proyek-proyek tersebut juga menandai tantangan klasik industri migas, kebutuhan investasi besar, penyelesaian yang rumit, serta tuntutan agar kilang Indonesia mampu memproduksi bahan bakar rendah emisi sesuai standar internasional.

Direktur Utama KPI Taufik Aditiyawarman, menilai modernisasi kilang merupakan kunci menjaga suplai energi nasional. “Pembangunan infrastruktur ini berperan langsung pada ketahanan energi Indonesia,” ujar dia melalui keterangannya.

Selama 2019–2024, KPI mencatat pengolahan bahan baku rata-rata 320 juta barel per tahun dengan produksi BBM sekitar 250 juta barel. Tingkat keandalan kilang (Plant Availability Factor/PAF) diklaim mencapai 99 persen, sementara Yield Valuable Product berada di angka 81 persen.

Meski begitu, indeks intensitas energi (Energy Intensity Index/EII) KPI masih berada di angka 107 persen. Angka ini menunjukkan masih adanya ruang untuk efisiensi, terutama dalam konteks komitmen pengurangan emisi dan penghematan energi di fasilitas kilang.

Tuntutan global terhadap energi bersih mendorong KPI menghasilkan produk rendah emisi seperti PertaminaSAF, PertaminaRD, Biosolar Low Sulphur, hingga Breezon. 

SAF (Sustainable Aviation Fuel) menjadi salah satu produk yang paling disorot karena menggunakan minyak jelantah sebagai bahan baku, tren yang secara global terus berkembang di sektor aviasi.

Selain produk, sejumlah kilang melakukan inovasi teknis, dari pengolahan super heavy crude di Dumai, peningkatan teknologi pengolahan nabati di Cilacap, hingga upaya efisiensi keselamatan di Balongan dan Balikpapan.

“Inovasi ini menunjukkan bahwa transformasi kilang tidak hanya soal kapasitas, tetapi juga pengurangan dampak lingkungan,” kata Taufik.

KPI juga mengklaim memperkuat aspek keselamatan melalui program Safety Leadership Program (SLP) 4.0. Penerapan budaya keselamatan disebut menjadi salah satu fondasi untuk menekan potensi insiden di lingkungan kilang, isu yang selama ini menjadi sorotan publik dalam pengoperasian fasilitas energi berskala besar.

Dalam ranah sosial-lingkungan, KPI melaporkan penyaluran sekitar Rp34 miliar untuk program TJSL sepanjang 2023–2024. Namun program-program sosial tersebut tidak menghapus tantangan yang tetap mengemuka: kebutuhan untuk memperbaiki kualitas udara, efisiensi energi, manajemen residu, dan adaptasi kilang terhadap target emisi nasional 2060.

Taufik menyebut usia ke-8 KPI sebagai momentum untuk memperkuat sinergi dan inovasi. Namun tantangan sektor kilang masih besar: kebutuhan impor minyak mentah yang tinggi, fluktuasi harga global, keterbatasan kapasitas kilang lama, dan komitmen pemerintah pada transisi energi.

“Semua pencapaian ini bukan akhir perjalanan, melainkan awal optimisme untuk menjaga ketahanan energi Indonesia,” tandas Taufik.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore