Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Oktober 2025, 00.01 WIB

Diguyur Likuiditas Rp 200 Triliun Dana Pemerintah, ini Ranking Bank Himbara dari Paling Besar Penyerapannya

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu. (Nurul Fitriana/JawaPos.com) - Image

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu. (Nurul Fitriana/JawaPos.com)

JawaPos.com - Kementerian Keuangan membeberkan realisasi penyaluran dana likuiditas pemerintah sebesar Rp 200 triliun yang dikucurkan ke lima Himpunan Bank Milik Negara atau bank himbara yang telah resmi disalurkan pada Jumat (12/9) bulan lalu.

Dari data yang dipaparkan Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal (DJSEF) Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, terlihat bahwa per hari ini, Kamis (9/10) paling besar realisasi dilakukan oleh Bank Mandiri sebesar 74 persen. Sedangkan terkecil adalah BTN sebesar 19 persen.

"Sehingga ini perkembangannya cukup menarik sudah ada realisasinya berapa. Ini ya, rata-rata udah cukup tinggi, Mandiri 74 persen, BRI sudah 62 persen, BNI 50 persen, BTN 19 persen, BSI 55 persen," kata Febrio dalam Media Gathering di Kantor DJP, Jakarta Selatan, Kamis (9/10).

Lebih lanjut, Febrio menilai realisasi itu sangat menggembirakan, terlebih memang sejak Pemerintah mencoba untuk menaruh uang cash dari Bank Indonesia senilai Rp 200 triliun ke perbankan banyak membawa manfaat bagi kedua pihak.

Dari sisi perbankan, kata dia, mereka mendapatkan tambahan likuiditas dana lebih murah dibandingkan dengan cost of fund. Belum lagi, besaran bunganya disamakan dengan remunerasi di Bank Indonesia sebesar 3,8 persen.

"Jadi, kalau teman-teman ingat, kita berikan bunganya adalah sama dengan remunerasi kita yang ada di Bank Indonesia itu adalah 80 persen dari suku bunga kebijakan yaitu kalau dengan suku bunga kebijakan terakhir itu jadinya sekitar 3,8 persen. Itu tentunya lebih murah dibandingkan cost of fund perbankan yang kita tempatkan cash kita," jelasnya.

Febrio memastikan, bahwa penyaluran dana likuiditas pemerintah ke sejumlah bank ini akan terus dilanjutkan. Bukan hanya dinilai bunganya lebih murah saja, tetapi juga dana milik pemerintah bisa cepat bergerak ke sektor riil.

"Jadi, ini kita harapkan akan terus berlanjut, karena saya ulang ya, tadi bukan hanya kita pindahkan cash-nya, tetapi bunganya lebih murah, sehingga mereka tentu akan memprioritaskan menggunakan uang ini untuk disalurkan ke sektor riil, ini yang ingin kita lihat, dan ini memang apa namanya yang kita harapkan terjadi dengan perpindahan cash tersebut," ungkapnya.

Bahkan, Febrio mengakui sudah ada permintaan dari beberapa bank yang lain untuk mendapatkan juga penempatan cash dari pemerintah ini. Sehingga, lanjutnya, kebijakan di era Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ini sudah mulai terlihat mampu menggerakan sektor kredit dan berpotensi menggenjot pertumbuhan ekonomi pada akhir tahun mendatang. 

"Ini kebijakan yang kelihatannya simple hanya memindahkan cash, tetapi dampaknya bagi pertumbuhan kredit kita harapkan kalau di Agustus itu masih 7, pertumbuhan kreditnya 7, nah ini kita berharap di akhir tahun ini bisa menuju ke 10," ujar Febrio.

"Sehingga itu akan cukup real nanti di kredit modal kerja, kredit konsumsi, kredit investasi dan sebagian akan langsung berdampak pada performance dari PDB kita di Kuartal IV-2025, itu yang kita harapkan sehingga kalau di perhitungan kami Kuartal IV-2025, itu bisa akan mencapai sekitar pertumbuhannya 5,5 persen," tutupnya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore