Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Oktober 2025, 02.59 WIB

Cadev Tergerus, tapi Cadangan dalam Bentuk Emas Indonesia Malah Meningkat

Senior Economist PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad (kiri) dalam pendalaman respons bauran kebijakan BI di Bukittinggi, Jumat (24/10). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos) - Image

Senior Economist PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad (kiri) dalam pendalaman respons bauran kebijakan BI di Bukittinggi, Jumat (24/10). (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

JawaPos.com - Cadangan devisa (cadev) Indonesia turun per akhir September 2025. Cadangan dalam bentuk mata uang asing tergerus. Sedangkan, cadangan emas meningkat.

Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia (BI) Juli Budi Winantya menuturkan, posisi cadev per September 2025 tercatat sebesar USD 148,7 miliar. Turun USD 2 miliar dari USD 150,7 miliar pada akhir Agustus 2025. Jumlah tersebut setara dengan 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

"Angka ini cukup memadai karena jauh di atas standar internasional minimal tiga bulan impor. Sehingga kami menilai posisi cadangan devisa masih sangat aman untuk memenuhi kewajiban jangka pendek ke depan," kata Juli dalam pendalaman respons bauran kebijakan BI di Bukittinggi, Jumat (24/10).

Berdasarkan Standar Penyebaran Data Khusus BI, cadangan mata uang asing tergerus USD 3,4 miliar menjadi USD 128,94 miliar. Valuasi cadangan emas justru naik dari USD 8,82 miliar per Agustus 2025 menjadi USD 9,94 miliar pada September 2025. Data International Monetary Fund (IMF) terkait menunjukkan cadangan emas Indonesia sebanyak 2.850.000 troy ons atau sekitar 80,247 ton.

Data-data tersebut sekaligus menjawab isu penjualan emas oleh BI sebanyak 11 ton. Sebab, jumlah cadangan emas tidak berkurang. Malah justru bertambah.

Terkait dengan nilai tukar, Juli menyebutkan rupiah relatif stabil dengan kondisi ketidakpastian global saat ini. Pada 21 Oktober 2025 tercatat Rp16.585 per USD. Menguat tipis 0,45 persen dibandingkan dengan level pada akhir September 2025.

Hanya saja, hingga pukul 17.47, nilai tukar rupiah berada di level Rp 16.602 per USD. Melemah 27 poin atau 0,16 persen. "Sempat terjadi outflow dari investor nonresiden, stabilitas ini tidak lepas dari komitmen BI untuk menjaga kestabilan nilai tukar rupiah," ujarnya.

Dalam menjaga rupiah, BI melakukan sejumlah kebijakan, antara lain intervensi di pasar valuta asing (valas). Kemudian, penjualan valas di pasar spot maupun forward apabila diperlukan. Sehingga mampu meredam volatilitas nilai tukar.

Intervensi dilakukan di dalam negeri melalui DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward) maupun di luar negeri melalui NDF (Non-Deliverable Forward). Kombinasi kebijakan ini terus ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

"Selain itu, dukungan terhadap rupiah juga datang dari korporasi, terutama eksportir, yang melakukan penjualan atau konversi devisa hasil ekspor ke dalam Rupiah. Hal ini turut menambah pasokan valas di pasar domestik," terang Juli.

Dia memastikan selalu melakukan asesmen terhadap perekonomian global. Karena Indonesia sebagai negara dengan perekonomian yang terbuka, maka segala hal yang terjadi di ekonomi global tentu akan berdampak ke ekonomi domestik.

Senior Economist PT Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad menuturkan, hilirisasi memberikan ketahanan tambahan bagi fundamental ekonomi Indonesia. Terutama di tengah dinamika global dan potensi keluarnya dana asing dari pasar obligasi domestik.

"Hilirisasi industri membuat rupiah lebih kuat terhadap fluktuasi capital flow. Agar ketika hari ini bond kita mengalami outflow, rupiah kita tidak terguncang," ungkapnya.

Kondisi cadev yang masih memadai turut menjadi bantalan penting bagi stabilitas nilai tukar. Artinya, selama masih memiliki cadev yang cukup tebal, Indonesia memiliki ruang untuk menjaga stabilitas. Makanya, dampak negatif dari potensi keluarnya dana asing kini relatif terbatas.

"Jadi, ini adalah joint effort. Kalau suku bunga terlalu rendah, biasanya asing akan outflow. Dari situ, apakah ada dampak negatif lanjutan? Per hari ini, dampak negatifnya berhenti di asing outflow. That’s it. Tidak ada lagi yang terjadi setelah asing outflow," bebernya.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore