Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 November 2025, 03.00 WIB

Sering jadi Sumber Konflik di Keluarga, Mengapa Perencanaan Warisan Penting untuk Masa Depan?

Pembagian warisan sering jadi ujian terakhir bagi banyak keluarga, menyebabkan perpecahan dan konflik yang sulit selesai. (M. Reza Febrino/Padek) - Image

Pembagian warisan sering jadi ujian terakhir bagi banyak keluarga, menyebabkan perpecahan dan konflik yang sulit selesai. (M. Reza Febrino/Padek)


JawaPos.com - Pembagian warisan sering kali menjadi ujian terakhir dalam sebuah keluarga. Tak jarang, harta peninggalan yang seharusnya menjadi simbol kasih sayang justru berubah menjadi sumber pertengkaran, bahkan perpecahan. 

Diperparah, rendahnya kesadaran finansial masyarakat, persoalan klasik ini ternyata masih menghantui banyak keluarga di Indonesia dan Asia.

Hal itu terungkap dalam survei terbaru Sun Life Indonesia bertajuk 'Passing the Torch: Building Lasting Legacies in Asia', yang menyoroti bagaimana keluarga di Asia memandang, merencanakan, dan meneruskan warisan, baik dalam bentuk kekayaan maupun nilai kehidupan.

Warisan Tak Sekadar Harta, tapi juga Nilai dan Makna

Bagi banyak keluarga Asia, warisan bukan hanya rumah, tabungan, atau bisnis keluarga. Sebanyak 41 persen responden menganggap warisan sebagai simbol perjuangan hidup yang harus dijaga dan diteruskan, sementara 15 persen ingin meneruskan tradisi keluarga, dan 13 persen berharap meninggalkan pengaruh positif bagi orang-orang terdekat mereka.

Namun, kekhawatiran besar muncul: hanya 31 persen yang percaya anak-anak mereka akan menjaga dan melanjutkan nilai-nilai keluarga. Perbedaan gaya hidup dan prioritas antar generasi menjadi penyebab utamanya. 

Generasi muda dinilai semakin jauh dari tradisi dan cenderung lebih fokus pada kemandirian finansial ketimbang menjaga 'nama besar' keluarga.

60 Persen Tak Yakin Harta akan Bertahan di Tangan Anak

Survei yang melibatkan lebih dari 3.000 responden di enam negara, termasuk Indonesia itu menemukan bahwa 60 persen orang tua khawatir kekayaan mereka tidak akan bertahan hingga generasi berikutnya. Bahkan lebih dari separuh merasa anak-anak mereka belum memiliki kemampuan finansial yang cukup untuk mengelola warisan.

Kekhawatiran ini paling tinggi dirasakan kalangan berpenghasilan menengah ke atas. Banyak dari mereka menyadari, tanpa literasi keuangan dan komunikasi keluarga yang terbuka, harta bisa habis dalam hitungan tahun setelah pewaris meninggal.

“Kami melihat perubahan cara pandang keluarga terhadap konsep warisan, tidak hanya tentang harta, tapi juga bagaimana memberikan rasa aman, pendidikan, dan masa depan yang bermakna bagi generasi berikutnya,” ujar Maika Randini, Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia dalam laporannya.

Kurang Siap, Banyak yang Belum Punya Rencana Jelas

Meski kesadaran terhadap pentingnya perencanaan warisan meningkat, faktanya hanya 1 dari 5 orang yang benar-benar siap jika harus meninggalkan warisan hari ini. Bahkan 31 persen responden mengaku belum menyiapkan apa pun, sementara sebagian besar baru sekadar membicarakan tanpa tindakan konkret.

Padahal, pembicaraan terbuka dan perencanaan yang jelas bisa mencegah konflik keluarga di kemudian hari. Survei juga menunjukkan bahwa 44 persen keluarga masih mendiskusikan soal warisan secara informal, tanpa dokumen resmi seperti surat wasiat atau perwalian.

Kemudian, selain aset, banyak keluarga kini menyadari bahwa literasi finansial merupakan bentuk warisan yang paling berharga. Sekitar 53 persen responden mengatakan mereka sudah mulai mengajarkan anak-anaknya tentang pengelolaan uang dan pentingnya menabung serta berinvestasi.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore