Logo JawaPos
Author avatar - Image
05 Januari 2026, 04.55 WIB

Memanasnya Hubungan AS-Venezuela Pengaruhi Pergerakan Pasar Keuangan, IHSG Besok Diprediksi Melemah Terbatas

Layar menampilkan pergerakan IHSG saat penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025).  (Salman Toyibi/Jawa Pos) - Image

Layar menampilkan pergerakan IHSG saat penutupan perdagangan PT Bursa Efek Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Selasa (30/12/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)

JawaPos.com - Memanasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan Venezuela, akan menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan pasar keuangan pada awal tahun 2026. Analis pasar modal Hendra Wardana mengatakan, isu penangkapan Presiden Venezuela (Nicolas Maduro) oleh otoritas AS meningkatkan ketegangan geopolitik dan langsung berdampak pada persepsi risiko global

Menurutnya, memanasnya hubungan AS dan Venezuela berpotensi meningkatkan aversi risiko investor di tingkat global dalam jangka pendek. Venezuela merupakan negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia, sehingga setiap eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas pasokan energi global.

"Kondisi ini mendorong harga minyak bergerak volatile dan cenderung menguat dalam jangka pendek," ujar founder Republik Investor ini.

Bagaimana dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) besok, pada perdagangan Senin (5/1)?

Dia memproyeksikan akan melemah terbatas untuk menguji area support di kisaran 8.642 hingga 8.672.

"Area tersebut menjadi level krusial untuk mengukur kekuatan pasar, sementara resistance terdekat tetap berada di level puncak historis 8.777," ujar Hendra.

Di sisi lain, menurut dia, situasi ini akan memberikan sentimen positif bagi saham-saham sektor energi dan komoditas. Namun, tetap akan meningkatkan kekhawatiran investor terhadap inflasi dan ketidakpastian global, sehingga mendorong sikap wait and see khususnya dari investor asing.

Selain faktor AS dan Venezuela, pergerakan IHSG pada pekan depan juga akan dipengaruhi oleh ekspektasi arah kebijakan suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta dinamika arus dana asing di pasar emerging markets.

Dari dalam negeri, dia menyebut pelaku pasar mencermati kesinambungan kebijakan ekonomi pemerintah yang pro-pasar, stabilitas makroekonomi, serta realisasi kinerja awal tahun emiten-emiten berkapitalisasi besar.

"Kombinasi sentimen global dan domestik ini membuat pergerakan IHSG cenderung fluktuatif, namun masih berada dalam fase konsolidasi yang sehat selama support utama mampu dipertahankan," ujar Hendra.

Dalam konteks jangka menengah panjang, menurutnya, proyeksi IHSG menembus level 10.000 pada akhir 2026 memang terkesan ambisius, namun masih berada dalam koridor realistis apabila dikaitkan dengan fondasi pasar modal Indonesia.

"Awal 2026 pun dibuka dengan sentimen positif, tercermin dari penguatan IHSG lebih dari 1 persen pada hari perdagangan pertama dengan nilai transaksi yang besar, menandakan kepercayaan pasar terhadap prospek ekonomi nasional masih cukup solid," ujar Hendra.

Namun demikian, untuk mencapai level psikologis 10.000, menurutnya, penguatan IHSG tetap membutuhkan dukungan fundamental yang berkelanjutan. Selain itu, lanjutnya, pertumbuhan laba emiten, terutama saham-saham berkapitalisasi besar, akan menjadi motor utama indeks.

Kemudian, peluang kembalinya arus dana asing seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga global, stabilitas inflasi, nilai tukar rupiah yang terkendali, serta keberlanjutan IPO berkualitas akan memperkuat struktur pasar modal secara jangka panjang.

"Di tengah volatilitas jangka pendek akibat sentimen geopolitik, strategi yang lebih relevan adalah selektif dan memanfaatkan koreksi sebagai peluang trading maupun akumulasi terbatas," ujar Hendra.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore