Pasangan sedang bergenggam tangan (Dok. Stocksy)
JawaPos.com - Setiap orang mendambakan cinta yang dalam dan tulus, namun bagi sebagian orang, perasaan itu bisa berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Cinta obsesif membuat seseorang terfokus berlebihan pada pasangan hingga memperlakukan mereka seolah milik pribadi. Kondisi ini bisa dipicu oleh gangguan mental tertentu atau pengalaman emosional yang belum terselesaikan.
Meski sering disebut sebagai obsessive love disorder, kondisi ini belum diakui secara resmi sebagai gangguan kejiwaan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, banyak ahli menyebut bahwa cinta obsesif bisa menjadi tanda dari masalah kesehatan mental lain yang lebih dalam.
Tanpa penanganan yang tepat, perasaan ini dapat memicu perilaku berlebihan yang sulit dikendalikan. Dalam kasus ekstrem, bahkan bisa berujung pada kekerasan atau tindakan penyalahgunaan terhadap pasangan.
Apa Itu Cinta Obsesif?
Cinta obsesif menggambarkan ketertarikan ekstrem terhadap seseorang hingga menganggapnya sebagai objek kepemilikan. Orang yang mengalaminya mungkin merasa cemburu tanpa alasan, memiliki pikiran delusional tentang perselingkuhan, atau kesulitan mengatur emosi. Rasa rendah diri, ketergantungan emosional, dan keinginan memiliki secara penuh sering menyertai kondisi ini.
Berbeda dari cinta sejati yang tumbuh dengan rasa saling percaya dan menghargai, cinta obsesif lebih menekankan pada penguasaan dan kepemilikan. Orang yang mengalami cinta obsesif kerap mengabaikan kesejahteraan pasangannya dan hanya fokus pada kebutuhan emosionalnya sendiri.
Menurut teori segitiga cinta, hubungan sehat seharusnya memiliki tiga unsur penting: gairah, keintiman, dan komitmen. Namun, dalam cinta obsesif, keseimbangan ini hilang. Gairah berubah menjadi kecanduan, keintiman digantikan oleh rasa curiga, dan komitmen menjadi bentuk kendali yang menekan.
Cinta obsesif bahkan bisa muncul tanpa hubungan nyata, seperti obsesi terhadap selebritas atau orang asing. Dalam kasus ekstrem, hal ini dikenal sebagai erotomania, di mana seseorang meyakini secara keliru bahwa orang berstatus lebih tinggi mencintai dirinya.
Penyebab Terjadinya Cinta Obsesif
Dilansir dari Medical News Today, ada berbagai faktor yang bisa memicu munculnya cinta obsesif, mulai dari gangguan kepribadian, trauma masa kecil, hingga pola asuh yang tidak sehat. Salah satunya adalah erotomania atau sindrom de Clérambault, di mana seseorang mengalami delusi bahwa orang lain (biasanya tokoh terkenal) jatuh cinta padanya. Kondisi ini bisa muncul secara mandiri atau terkait dengan gangguan mental lain seperti skizofrenia dan depresi berat.
Selain itu, gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder) juga berperan besar. Penderitanya cenderung takut ditinggalkan, memiliki suasana hati yang tidak stabil, dan sulit mempertahankan hubungan sehat. Mereka bisa sangat mencintai seseorang pada satu waktu, lalu tiba-tiba membencinya di waktu lain.
Masa kecil yang penuh ketidakstabilan juga menjadi faktor penting. Anak yang tumbuh dengan orang tua atau pengasuh yang kasar atau tidak konsisten mungkin mengembangkan gaya keterikatan tidak aman (insecure attachment). Akibatnya, ketika dewasa mereka bisa menjadi terlalu bergantung, takut kehilangan, dan menuntut perhatian terus-menerus.
Gangguan obsesif-kompulsif (OCD) juga dapat memunculkan bentuk khusus yang disebut relationship OCD (ROCD), di mana seseorang terus-menerus mempertanyakan kesetiaan pasangan. Hal ini bisa memicu kecemasan berat, depresi, dan perilaku mengontrol yang merusak hubungan.
Norma sosial dan budaya juga turut mempengaruhi. Beberapa masyarakat masih menanamkan gagasan bahwa cinta berarti memiliki, atau bahwa pasangan harus tunduk untuk membuktikan kasihnya. Pola pikir ini bisa memperkuat perilaku posesif dan mengarah pada toxic masculinity, pandangan yang membenarkan kontrol dan kekerasan terhadap pasangan.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
