Logo JawaPos
Author avatar - Image
01 Desember 2025, 18.18 WIB

Anggi Umbara Nekat Bawa Rubicon Terobos CFD Jakarta, Muak Terhadap Kekuasaan yang Semena-mena

Aksi mobil Rubicon dengan struktur ringan yang menerobos masuk ke area CFD Jakarta, Minggu kemarin, menjadi pusat perhatian warga. (istimewa)

JawaPos.com - Terdapat pemandangan berbeda dan mencolok dalam kegiatan warga saat melakukan kegiatan olahraga di acara Car Free Day, Sudirman, Jakarta, pada Minggu (30/11) kemarin.

CFD yang biasanya dipenuhi tawa, musik, hingga kegiatan olahraga warga dan steril dari kendaraan bermotor, tiba-tiba saja muncul sebuah kendaraan mirip Rubicon ke tengah-tengah warga. Pemandangan berbeda itu otomatis menjadi pusat perhatian warga.

Mobil kebal aturan hukum itu dengan percaya diri tetap melaju menerobos kerumunan warga di CFD Jakarta. Sejumlah suara orang berteriak mengatakan STOP! STOP! Lalu dilanjutkan dengan kata-kata STOP BULLYING!!.

Suara klakson terdengar seperti suara motor polisi. Mobil Rubicon yang nekat melintas di tengah kerumunan warga CFD memang bukan kendaraan sungguhan. Itu adalah mobil dengan struktur ringan digotong oleh belasan relawan sambil meneriakkan STOP BULLYING! secara berulang.

Ketika dilihat dari jarak dekat, di sana terdapat tulisan pada sisi tubuh mobil “OZORA: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel.”

Kehadiran mobil Rubicon dengan struktur ringan yang digotong oleh belasan orang merupakan bagian dari aktivasi berani mengusung tajuk BULLYCON. Ini bagian dari rangkaian kegiatan menuju perilisan film Ozora: Penganiayaan Brutal Penguasa Jaksel, yang akan tayang di bioskop mulai 4 Desember 2025.

Dalam kegiatan tersebut, Anggy Umbara membawa sebuah Rubicon ke tengah keramaian Car Free Day Jakarta, menghadirkan kembali simbol yang pernah mengguncang publik terkait kasus penyalahgunaan kekuasaan dan ketidakadilan hukum yang sempat terjadi beberapa tahun silam.

Dengan menghadirkan Rubicon tersebut di ruang publik, Bullycon mengingatkan masyarakat bahwa peristiwa yang dulu memicu kemarahan bukan sekadar fenomena viral yang hilang dalam hitungan minggu. Ia adalah potret bagaimana kekuasaan dapat berjalan tanpa kontrol, dan bagaimana masyarakat sering menjadi pihak yang paling dirugikan.

“Kalau dulu mobil ini bisa bebas bergerak tanpa konsekuensi, sekarang biar publik yang melihatnya langsung. Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan begitu saja,” ujar Anggy Umbara selaku sutradara film Ozora, terkait keputusannya membawa Rubicon masuk ke area CFD.

Menurutnya, langkah ini adalah bentuk konsistensi untuk tidak diam melihat ketidakadilan yang berulang. Bullycon juga menyoroti pesan mendasar dari film Ozora bahwa bullying tidak hanya terjadi dalam bentuk fisik atau verbal antar individu.

Ia dapat lahir dari sistem yang timpang, dari pihak yang merasa lebih berkuasa, dari aparat yang bertindak semena-mena, hingga dari keluarga yang memelihara budaya kekerasan.

Bullying bukan sekadar tindakan, tetapi struktur dan ketika kekuasaan ikut terlibat, dampaknya meluas, menimbulkan trauma yang panjang dan ketidakpercayaan pada keadilan.

Aktivasi ini mengajak publik melihat bahwa bullying dapat hadir dalam banyak bentuk, termasuk dalam keputusan-keputusan yang memihak dan perlakuan hukum yang tidak setara.

Aktivasi ini menjadi ruang refleksi bahwa praktik perundungan dan kesewenangan tidak hanya terjadi di lingkungan sekolah atau pergaulan, tetapi juga dapat berakar dari struktur kekuasaan yang dibiarkan tanpa kontrol publik.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore