Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Desember 2025, 04.35 WIB

Fuji Ungkap Alami ADHD, Akui Sulit Fokus hingga Konsultasi ke Psikolog

Fujianti Utami Putri (Instagram @fuji_an)

JawaPos.com - Fujianti Utami atau yang akrab disapa Fuji, mengungkapkan bahwa dirinya memiliki gangguan perkembangan pada saraf atau disebut dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). 

Pernyataan itu disampaikan Fuji dalam podcast Raditya Dika yang tayang di kanal YouTube @radityadika.

Adapun dilansir dari Alodokter, Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan gangguan perkembangan pada otak yang menyebabkan penderitanya sulit berkonsentrasi, hiperaktif, dan munculnya perilaku impulsif. Kondisi ini dapat berdampak pada pencapaian akademik dan juga mempengaruhi kualitas hubungan sosial penderitanya.

Dalam perbincangannya bersama Raditya Dika, Fuji menjelaskan bahwa kondisi ADHD sebenarnya sudah dirasakan sejak kecil. Ia kurang fokus dan sering lupa dalam berbagai hal, seperti menaruh barang dan tidak ingat apa yang baru saja dilakukannya. 

"Dari kecil sebenarnya mama sama papa sudah sering banget marahin aku, aku suka lupa taruh barang, suka lupa apa yang aku lakukan," katanya.

Fuji juga mengungkapkan bahwa ia kesulitan berkonsentrasi ketika berada di suasana ramai. Namun, saat sendirian, ia justru merasa lebih tertata.

"Kalau belajar rame-rame nggak fokus, tapi kalau sendiri itu lebih tertata," ucapnya.

Selain itu, Fuji mengaku mengalami kesulitan dalam menghafal skrip dan fokus pada topik pembicaraan.

"Aku susah banget namanya ngapalin skrip, fokus ke topik pembicaraan," ujarnya. 

Fuji juga mengungkapkan bahwa dalam menjalani pekerjaannya, ia kerap bersikap tidak konsisten. Ia mengaku sering meninggalkan proses pengeditan di tengah jalan karena merasa bosan, lalu lupa untuk melanjutkannya dalam waktu yang lama.

"Aku biasanya suka ngedit sendiri dari dulu.Terus pas lagi ngedit, ngedit setengah udah bosan, tinggalin. Terus abis itu lupa, aku lanjut editannya sebulan kemudian, bisa separah itu," ungkapnya.

Kesadaran untuk memeriksakan diri ke psikolog muncul karena adanya dorongan dari temannya, Vio. Fuji mengaku awalnya menolak karena merasa tidak membutuhkan hal itu.

"Awalnya aku nggak mau, karena aku masih kecil kali ya. Aku ngerasa, I don't need that," ujarnya. 

Fuji mengatakan bahwa Vio terus membujuknya karena merasa kasihan dengan kondisi dirinya, sampai akhirnya Fuji mendatangi psikolog sebagai bentuk menghargai temannya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore