
Mark Zuckerberg saat memperkenalkan Metabot, robot humanoid penantang Tesla Optimus. (Daily Jang)
JawaPos.com — Persaingan dalam pengembangan robot humanoid kian memanas di Silicon Valley. Setelah Elon Musk memperkenalkan Optimus melalui Tesla, kini giliran Mark Zuckerberg yang meluncurkan proyek ambisiusnya, Metabot.
Langkah ini menandai upaya Meta untuk menantang dominasi pendekatan berbasis perangkat keras Tesla dengan kekuatan utama pada sistem perangkat lunak dan kecerdasan buatan.
Menurut laporan Reuters, Meta membentuk divisi baru di bawah unit Reality Labs untuk mengembangkan robot humanoid berbasis kecerdasan buatan.
Proyek ini dipimpin Marc Whitten, mantan eksekutif Microsoft dan Amazon, yang membawa pengalaman luas dalam pengembangan sistem berskala besar.
“Langkah ini akan memperkuat fondasi Meta dalam integrasi antara kecerdasan buatan dan sistem mekanik canggih,” tulis memo internal tersebut.
Melansir Daily Jang, Selasa (7/10/2025), Meta menempuh strategi berbeda dari Tesla yang berfokus pada penyempurnaan perangkat keras dan produksi massal jutaan unit Optimus dalam lima tahun ke depan.
Meta justru mengandalkan kekuatan perangkat lunak. Kepala Teknologi Meta, Andrew Bosworth, menegaskan, “Perangkat keras bukan bagian tersulit. Tantangan sesungguhnya adalah menciptakan perangkat lunak yang mampu membuat robot benar-benar memahami dunia nyata.” Pernyataan ini menegaskan fokus Meta pada pengembangan sistem kendali cerdas yang lebih adaptif dan efisien.
Inti dari proyek Metabot adalah pengembangan “otak robot” universal, platform kecerdasan buatan yang dapat dijalankan di berbagai mesin, mirip cara sistem operasi Android digunakan di berbagai merek ponsel pintar.
Pendekatan berbasis ekosistem terbuka ini berbeda dari Tesla yang berorientasi pada integrasi penuh dari produksi hingga distribusi.
Meta berencana melisensikan teknologi ini kepada produsen robot lain agar fokus mereka dapat diarahkan pada pengembangan aspek mekanik.
Untuk memperkuat penelitian dan rekayasa, Meta menggandeng Sangbae Kim, pakar robotika dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT), serta sejumlah insinyur senior dari proyek augmented reality perusahaan tersebut.
Kombinasi keahlian perangkat keras dan algoritma kecerdasan buatan ini menciptakan sinergi strategis bagi ambisi besar Meta di sektor robotika global.
Jika berhasil, Metabot berpotensi menjadi “otak” di balik berbagai robot di seluruh dunia. Posisi Meta pun beralih dari sekadar perusahaan media sosial menjadi penyedia sistem kecerdasan untuk industri robotik global, menempatkannya dalam persaingan langsung dengan Tesla yang berfokus pada kinerja fisik dan efisiensi manufaktur.
Namun, tantangan besar tetap menanti. Masalah efisiensi energi, keamanan penggunaan di lingkungan manusia, serta kemampuan manipulasi objek kecil di dunia nyata masih menjadi hambatan utama bagi industri ini.
Sementara Tesla telah memamerkan prototipe Optimus di lini produksinya dengan rencana produksi massal, Meta memilih langkah lebih strategis: memperluas pengaruhnya melalui distribusi sistem kecerdasan buatan Metabot kepada berbagai pabrikan.
Pertarungan dua pendekatan ini—antara dominasi perangkat keras ala Tesla dan kecanggihan perangkat lunak ala Meta—menjadi simbol pergeseran arah industri robotika global.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
