
Iluatrasi Gunung Krakatau. (forbes.com)
JawaPos.com - Letusan Gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 bukan hanya mengguncang Nusantara, tapi juga mencatatkan diri sebagai suara paling keras dalam sejarah manusia.
Dentuman dari letusan tersebut terdengar hingga sejauh 4.800 kilometer, mencapai Perth di Australia dan Pulau Rodrigues di Samudra Hindia.
Menurut Encyclopaedia Britannica, kekuatan suara tersebut diperkirakan mencapai 310 desibel atau setara dengan ledakan yang bisa membuat gendang telinga pecah dalam radius ratusan kilometer.
Smithsonian Institution mencatat bahwa gelombang tekanan atmosfer dari letusan Krakatau mengelilingi bumi sebanyak empat kali. “Dentumannya begitu kuat hingga barometer di seluruh dunia mencatat lonjakan tekanan udara,” ujar Janine Krippner, vulkanolog dari Smithsonian Global Volcanism Program.
Ia menambahkan bahwa efek suara tersebut bahkan menyebabkan kerusakan fisik pada tubuh manusia dan struktur bangunan di wilayah pesisir.
National Geographic menyebut bahwa skala energi yang dilepaskan Krakatau setara dengan 200 megaton TNT, empat kali lebih besar dari bom nuklir terbesar yang pernah diuji.
“Bayangkan suara yang bisa terdengar sejauh ribuan kilometer, itu bukan sekadar ledakan, itu adalah peristiwa atmosfer global,” kata Kevin MacKay, ahli geologi kelautan dari NIWA Selandia Baru.
Natural History Museum London menyoroti dampak visual dari letusan tersebut. Abu vulkanik yang terlempar ke atmosfer menyebabkan langit berwarna jingga dan biru selama berbulan-bulan.
“Letusan Krakatau adalah contoh nyata dari kekuatan alam yang tak terbendung. Dalam sekejap, bumi bisa mengubah warna langit dan suhu global,” ujar Dr Martin Mangler, ilmuwan geologi dari museum tersebut.
Sementara itu, laporan dari Library of Congress menunjukkan bahwa lebih dari 70% pulau Krakatau hancur dan tenggelam ke dalam kaldera. Peta topografi yang dibuat setelah letusan menunjukkan perubahan drastis pada kedalaman laut dan bentuk pulau-pulau di sekitarnya.
Geolog Rogier Verbeek, yang menyelidiki dampak letusan, menyebut bahwa Krakatau menjadi simbol bencana global pertama yang terdokumentasi secara ilmiah dan kartografis.
Letusan ini juga memicu tsunami setinggi lebih dari 30 meter yang menyapu pesisir Jawa dan Sumatra, menewaskan lebih dari 36.000 jiwa. Efeknya terasa hingga ke Eropa dan Amerika Serikat, di mana seniman-seniman melukis langit merah darah tanpa menyadari bahwa mereka sedang merekam jejak Krakatau.
Krakatau 1883 menjadi titik balik dalam studi vulkanologi dan pemahaman tentang dampak global dari aktivitas geologis. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
