
Ilustrasi kaum muda yang menunggu antrian di rumah sakit di tengah meningkatnya risiko kesehatan global. (The Guardian)
JawaPos.com — Dunia kini menghadapi krisis yang muncul akibat meningkatnya angka kematian di kalangan remaja dan kaum muda, meskipun tingkat kematian global secara umum menurun.
Peringatan ini disampaikan melalui studi Global Burden of Disease (GBD) 2023 yang dipublikasikan di jurnal The Lancet dan dipresentasikan dalam World Health Summit di Berlin.
Dilansir dari The Guardian, Senin (13/10/2025), penelitian yang melibatkan 16.500 ilmuwan dengan lebih dari 300.000 sumber data ini menunjukkan bahwa meski harapan hidup global meningkat menjadi 76,3 tahun bagi perempuan dan 71,5 tahun bagi laki-laki, tren kematian di kelompok usia muda justru berbalik arah.
Peningkatan tersebut paling nyata di Amerika Utara dan sebagian Amerika Latin, yang dipicu oleh konsumsi alkohol, penyalahgunaan narkoba, serta angka bunuh diri yang meningkat tajam.
“Peningkatan yang sangat mencolok di kalangan remaja dan kaum muda benar-benar menarik perhatian kami saat melihat data,” ujar Dr Christopher Murray, Direktur Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) di Universitas Washington.
Dia menambahkan, “Peningkatan angka kematian di kelompok usia muda, terutama di Amerika Utara, sangat berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan depresi pada anak muda, khususnya perempuan.”
Murray juga menyoroti perdebatan mengenai penyebab utama krisis kesehatan mental ini. “Apakah disebabkan oleh media sosial, perangkat elektronik, atau tren sosial yang lebih luas dalam pola asuh? Kami tahu pandemi Covid-19 memperburuk situasi ini. Namun hingga kini, penyebab pastinya masih menjadi perdebatan,” ujarnya.
Di sisi lain, di sub-Sahara Afrika, lonjakan kematian remaja disebabkan oleh faktor berbeda, seperti penyakit menular, cedera tak disengaja, komplikasi kehamilan, dan kematian ibu.
Studi ini bahkan mencatat bahwa tingkat kematian perempuan berusia 15 hingga 29 tahun di kawasan tersebut 61 persen lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya, dengan penyebab utama seperti meningitis dan kecelakaan lalu lintas.
Dr Githinji Gitahi, CEO Amref Health Africa, menilai bahwa 60 persen populasi Afrika yang berusia di bawah 25 tahun merupakan potensi besar yang terancam jika krisis kesehatan ini diabaikan.
“Pendekatan kesehatan yang terkotak-kotak telah gagal melindungi generasi muda kita. Kesehatan adalah investasi paling kuat, dan kita membutuhkan sistem terpadu untuk menghadapi beban ganda penyakit menular dan tidak menular serta perubahan iklim,” ujarnya.
Sementara itu, penulis senior studi ini, Prof Emmanuela Gakidou dari IHME, memperingatkan bahwa kemajuan kesehatan di negara berpenghasilan rendah terancam oleh pemangkasan bantuan internasional.
“Negara-negara ini bergantung pada pendanaan global untuk layanan kesehatan primer, obat-obatan, dan vaksin yang menyelamatkan jiwa. Tanpa dukungan tersebut, kesenjangan akan semakin melebar,” katanya.
Para peneliti menegaskan bahwa sekitar separuh beban penyakit global sebenarnya dapat dicegah, terutama yang dipicu oleh tekanan darah tinggi, polusi udara, merokok, dan obesitas. Karena itu, Murray menekankan bahwa temuan ini “merupakan peringatan keras bagi pemerintah dan pemimpin kesehatan global untuk segera bertindak cepat dan strategis.”
Dengan meningkatnya krisis kesehatan di kalangan muda, para ahli menilai bahwa investasi nyata pada sistem kesehatan yang berorientasi pada generasi muda menjadi kunci utama untuk menjaga masa depan populasi dunia yang semakin rentan. (*)
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
