
PM Israel Benjamin Netanyahu. (Facebook/CGTN Frontline)
JawaPos.com - Candu kekuasaan tampaknya benar adanya. Sulit lepas dari kekuatan, supremasi dan kekuasaan, membuat Benjamin Netanyahu, salah satu orang paling kontroversial di dunia karena genosida di Gaza disebut berencana mencalonkan dirinya lagi sebagai Perdana Menteri (PM) Israel di periode selanjutnya.
Benjamin Netanyahu memastikan akan kembali mencalonkan diri dalam pemilihan parlemen 2026. Langkah ini mempertegas ambisinya untuk mempertahankan kekuasaan yang sudah menjadikannya sebagai pemimpin dengan masa jabatan terlama dalam sejarah Israel modern.
Netanyahu mengumumkan niatnya itu dalam wawancara dengan Channel 14 Israel pada Sabtu (18/10). Saat ditanya apakah ia akan maju lagi, Netanyahu menjawab singkat, “Ya.”
Ketika pewawancara menanyakan apakah ia yakin menang, ia kembali menegaskan dengan nada percaya diri, “Ya.”
Dalam pemilu terakhir pada 2022, partai sayap kanan Likud yang dipimpinnya meraih 32 kursi di parlemen atau Knesset, dan berhasil membentuk pemerintahan koalisi dengan dukungan 64 dari 120 anggota.
Netanyahu kemudian resmi dilantik sebagai perdana menteri pada Desember 2022, memimpin koalisi yang dikenal berhaluan kanan ekstrem.
Mengutip berbagai sumber luar, Netanyahu sendiri saat ini memegang rekor sebagai pemimpin Israel yang paling lama berkuasa. Sudah belasan tahun jadi PM, penuh kontroversi dan masih belum ingin pensiun.
Netanyahu, yang akan berusia 76 tahun pekan depan, pertama kali menjabat sebagai perdana menteri pada 1996 hingga 1999, kemudian kembali berkuasa dari 2009 hingga 2021.
Setelah sempat digulingkan oleh koalisi Yair Lapid dan Naftali Bennett, ia kembali ke kursi perdana menteri pada akhir 2022. Total, Netanyahu telah memimpin Israel selama lebih dari 16 tahun, menjadikannya perdana menteri terlama dalam sejarah negara itu, melampaui pendiri Israel, David Ben-Gurion.
Namun, masa jabatan panjang Netanyahu tak lepas dari kontroversi dan gejolak politik. Ia kerap dikritik karena kebijakan keras terhadap Palestina, termasuk operasi militer besar-besaran di Jalur Gaza yang menewaskan ribuan warga sipil.
Langkah itu membuat reputasinya di kancah internasional kian terpuruk. Konflik terbaru antara Israel dan Hamas juga semakin memperburuk citranya di dunia internasional.
Netanyahu bahkan kini menjadi salah satu target penyelidikan Mahkamah Pidana Internasional (ICC) atas dugaan kejahatan perang dan genosida di Gaza. Meski demikian, ia tetap menolak tuduhan tersebut dan menegaskan bahwa Israel hanya 'membela diri'.
Selain isu perang, Netanyahu juga sempat memicu krisis politik dalam negeri akibat reformasi peradilan kontroversial yang dinilai melemahkan sistem demokrasi Israel. Gelombang protes besar-besaran terjadi sepanjang 2023, ketika ribuan warga turun ke jalan menuntut pembatalan kebijakan itu.
Bagi para pendukungnya, Netanyahu tetap dipandang sebagai simbol stabilitas dan keamanan nasional. Mereka menilai tidak ada pemimpin lain yang memiliki pengalaman diplomasi dan strategi pertahanan sekuat dirinya.
Namun bagi para pengkritik, langkah Netanyahu untuk kembali maju dianggap sebagai upaya mempertahankan kekuasaan di tengah badai politik dan hukum yang membelitnya.
John Herdman Full Senyum! 2 Pemain Timnas Indonesia, Kevin Diks dan Justin Hubner Cetak Gol di Eropa
Resep Strawberry Cheese Milk, Ide Jualan Takjil Ramadhan yang Segar dan Potensial Laris
Sriwijaya FC Resmi Degradasi ke Liga Nusantara, Ini Deretan Prestasi Laskar Wong Kito
Polemik Panas Terkait Musala di Bekasi Sampai ke DPR, Kini Berakhir Damai
Super Komputer Opta Prediksi 8 Tim yang Lolos Perempat Final Liga Champions UEFA
Resep Bakwan Goreng Ayam Halal, Ide Takjil Gurih yang Bikin Nagih
Rosenior Siap Hadapi PSG, Duel yang Menarik di Babak 16 Besar Liga Champions
Iran Konfirmasi Kematian Pemimpin Tertinggi Negaranya, Ayatollah Ali Khamenei, Usai Serangan Gabungan AS‑Israel
Cedera Frenkie de Jong, Barcelona Hadapi Tantangan Besar!
