Logo JawaPos
Author avatar - Image
25 Oktober 2025, 22.06 WIB

Donald Trump Murka Soal Upaya Aneksasi Tepi Barat, Peringatkan Benjamin Netanyahu Tak Guncang Kesepakatan Gaza

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyaksikan pengumuman penurunan harga obat-obatan di Gedung Putih, Washington (10/10). (Reuters) - Image

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyaksikan pengumuman penurunan harga obat-obatan di Gedung Putih, Washington (10/10). (Reuters)

JawaPos.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan peringatan keras kepada Israel di tengah memanasnya hubungan kedua negara, menyusul langkah parlemen Israel yang meloloskan rancangan undang-undang untuk menganeksasi sebagian wilayah Tepi Barat.

“Israel tidak akan melakukan apa pun dengan Tepi Barat,” tegas Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Kamis (24/10), dalam pernyataan publik pertamanya sejak Knesset mengesahkan dua rancangan undang-undang kontroversial itu. 

“Jangan khawatir soal itu. Israel baik-baik saja, dan mereka tidak akan melakukan apa pun," kata Trump mengutip Times of Israel.

Pernyataan Trump muncul hanya sehari setelah Wakil Presiden AS JD Vance melakukan kunjungan diplomatik ke Israel. Langkah parlemen itu dinilai melanggar janji Netanyahu sebelumnya untuk tidak mendorong aneksasi selama proses negosiasi gencatan senjata Gaza masih berlangsung.

Seorang pejabat senior pemerintahan Trump bahkan mengungkapkan kekesalan mendalam terhadap sikap Netanyahu. 

“Orang Israel tidak bisa memperlakukan kami seperti Joe Biden,” katanya kepada The Times of Israel secara anonim, merujuk pada ketegangan antara Netanyahu dan pemerintahan Demokrat sebelumnya.

Ketegangan meningkat setelah laporan dari Channel 12 mengutip pejabat AS lain yang memperingatkan bahwa Trump akan 'menghancurkan Netanyahu' jika perdana menteri Israel itu mengacaukan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran sandera di Gaza.

“Netanyahu sedang berjalan di atas garis tipis. Kalau dia merusak kesepakatan Gaza, Trump akan menghajarnya,” ujar sumber tersebut kepada jurnalis Barak Ravid.

Vance, yang saat itu berada di Israel, dikabarkan terkejut dengan langkah parlemen dan menilai keputusan tersebut sebagai tindakan 'tanpa pengawasan'.

Netanyahu mencoba meredakan situasi dengan menyebut bahwa pemungutan suara itu hanya tahap awal dan tidak akan berlanjut. Namun, Vance menanggapinya dingin: “Kalau ini hanya manuver politik, maka itu manuver yang sangat bodoh, dan saya pribadi merasa tersinggung," kata Vance.

Di tengah kebingungan diplomatik itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio tiba di Yerusalem Kamis (23/10) malam dan bertemu langsung dengan Netanyahu. Pertemuan singkat tanpa sesi tanya jawab itu menandakan upaya Washington untuk menahan laju krisis diplomatik yang berpotensi merembet ke isu Gaza.

Netanyahu menyebut Israel sedang menghadapi hari-hari penentu nasib bangsa, seraya menegaskan bahwa negaranya tetap ingin mendorong perdamaian di tengah tantangan keamanan yang belum reda.

“Kami percaya dapat mengatasi tantangan ini bersama Amerika Serikat,” kata Netanyahu.

Rubio menambahkan bahwa pemerintahan Trump menempatkan kelanjutan kesepakatan gencatan senjata Gaza sebagai 'prioritas utama'  Ia menegaskan bahwa tim senior, termasuk Jared Kushner, Steve Witkoff, dan JD Vance, dikerahkan khusus untuk menjaga stabilitas kawasan.

“Kami sudah melakukan hal yang tampak mustahil, dan kami akan terus melakukannya,” ujar Rubio. “Masih banyak hambatan, tapi kami yakin bisa mencapainya.”

Editor: Edy Pramana
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore